Kalimat luas dan kalimat numeral
KALIMAT NUMERAL DAN KALIMAT LUAS
Disusun untuk Memenuhi Tugas Uas Mata Kuliah Sintaksis
Dosen Pengampu : Dr. Rustam S.Pd, M.Hum

Disusun oleh:
Siti Mawansari (A1B116003)
Dwi Mulyadi (A1B116035)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAMBI
2016/2017
A. Pengertian kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik-turun, keras-lembut, disela-jeda dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf berlatih kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!). Pendapat lain mengatakan,’’kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun.’’ Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tulisan harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). Kalau tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Deretan kata yang seperti itu hanya dapat disebut sebagai frasa. Kalau dilihat dari hal predikat kalimat-kalimat dalam bahasa indonesia ada dua macam, yaitu :
1. Kalimat-kalimat yang ber predikat kata kerja, dan
2. Kalimat-kalimat yang berpredikat bukan kata kerja.
Akan tetapi, dalam pemakaian sehari-hari kalimat yang berpredikat kata kerja lebih besar jumlahnya daripada kalimat yang berpredikat bukan kata kerja. Hal itu membantu kita dengan mudah untuk menentukan predikat sebuah kalimat. Oleh sebab itu,kalau ada kata kerja dalam satu untaian kalimat, kata kerja itu dicadangkan sebagai predikat dalam kalimat itu.
Contoh: Tugas itu dikerjakan oleh para mahasiswa.
Kata kerja dalam kalimat ini dikerjakan. Kata dikerjakan adalah predikat dalam kalimat.
Setelah ditemukan predikat dalam kalimat itu, subjek ditemukan dengan cara bertanya menggunakan predikat, sebagai berikut:
Apa yang dikerjakan oleh para mahasiswa?
Jawaban pertanyaan itu ialah tugas itu. Kata tugas itu merupakan subjek kalimat. Kalau tidak ada kata yang dapat dijadikan jawaban pertanyaan itu. Hal itu berarti bahwa subjek tidak ada. Dengan demikian, pernyataan dalam bentuk deretan kata-kata itu bukanlah kalimat.
Kalau dalam suatu pernyataan tidak terdapat kata kerja, kata yang dapat kita cadangkan sebagai predikat ialah kata sifat. Disamping itu, kata bilangan dan kata benda pun dapat dijadikan sebagai predikat. Predikat itu dapat pula berupa frasa depan.
Sudah dijelaskan di atas bahwa mencari subjek sebuah kalimat adalah dengan cara bertanya melalui predikat dengan pertanyaan.
Siapa yang atau Apa yang + …… predikat.
Bagaimana halnya dengan objek? Unsur objek dalam kalimat hanya ditemukan dalam kalimat yang berpredikat kata kerja. Namun, tidak semua kalimat yang berpredikat kata kerja harus mempunyai objek. Objek itu hanya muncul pada kalimat yang berpredikat kata kerja transitif. Objek tidak dapat mendahului predikat karena predikat dan objek merupakan suatu kesatuan.
Jika dilihat dari segi makna kalimat objek merupakan unsur yang harus hadir setelah predikat yang berupa verbal transitif. Coba anda perhatikan pernyataan dibawah ini.
Ekspor non migas mendatangkan.
Frasa ekspor nonmigas merupakan subjek kalimat, sedangkan kata mendatangkan adalah unsur predikat yang berupa verba transitif. Kalimat ini belum memberikan informasi yang lengkap sebab belum ada kejelasan tentang mendatangkan itu. Oleh sebab itu, agar kalimat itu dapat memberikan informasi yang jelas, predikatnya harus dilengkapi seperti kalimat dibawah ini.
Ekspor nonmigas medatangkan keuntungan.
S P O
Andai kata suatu kalimat sudah mengandung kelengkapan makna dengan hanya memiliki subjek dan predikat yang berupa verba intransitif, objek tidak diperlukan lagi. Kalimat dibawah ini tidak memerlukan objek.
Penanaman modal asing berkembang.
S P
Kalimat itu sudah lengkap dan jelas. Jadi, unsur subjeknya adalah penanaman modal asing dan unsur predikatnya adalah berkembang. Kalimat itu telah memberikan informasi yang jelas. Kalimat itu tidak perlu dilengkapi lagi. Andai kata di belakang unsur berkembang ditambah dengan sebuah kata atau beberapa kata, unsur tambahan itu bukan objek, melainkan keterangan.
Misalnya:
Penanaman modal asing berkembang saat ini.
S P K
Kaliamat itu dibagi menjadi dua , yaitu kalimat sederhana dan kalimat luas.
Kalimat sederhana itu dibagi menjadi 7 salah satunya yaitu kalimat numeral.
Kalimat Numeral
Kalimat Numeral yakni kalimat yang predikatnya berupa frase numeral, dibentuk dari sebuah klausa numeral dan intonasi final. Contoh :
Gaji beliau lima juta sebulan
S P Ket.
Contoh lain :
Anaknya sembilan orang
Jaraknya dua kilometer dari sini
Mobil kami tiga buah
Anak anjingnya lima ekor
Catatan :
Dalam bahasa ragaam formal harus dimunculkan predikat verbalnya, atau kata pemisah atau kopula. Contoh :
Gaji beliau adalah lima juta sebulan
Anaknya ada sembilan orang
Jaraknya adalah dua kilometer dari sini
Mobil kami ada tiga buah
Anak anjingnya berjumlah tiga ekor
Kalimat tunggal numeral juga merupakan kalimat tunggal yang predikatnya berupa kata bilangan.Contoh :
– Hadirin sejumlah puluhan orang.
Subyek = Hadirin , Predikat = puluhan orang (numeral)
– Vino berhari-hari di depan toko itu.
Subyek = Vino , Predikat = berhari-hari (numeral) , Obyek= di depan toko itu
Kalimat Numeral adalah kalimat yang P-nya berupa kata bilangan.
Misalnya : (1) Mobilnya dua .
S P
(2) Yang hadir enam belas orang.
S P
(3) Kerbaunya tujuh ekor.
S P
(4) Temannya tiga puluh anak per kelas.
S P
Kata-kata : dua, enam belas orang, tujuh ekor, dan tiga puluh anak per kelas adalah kata bilangan. Karena itulah kalimat-kalimat tersebut dinamakan kalimat numeralia.
Kemudian ada yang namanya frasa, adapun jenis-jenis frasa yaitu Frasa Nomina, Frasa Verba, Frasa Numeralia, Frasa Ajektiva, Frasa Keterangan dan Frasa Preposisional, yang akan kita bahas yaitu frasa numeralia .
Frasa Numeralia
Frasa numeralia adalah frasa yang mempunyai inti berupa numeralia sebagai UP, misalnya frasa dua buah dalam dua buah rumah yang mempunyai unsur inti dua sebagai numeralia dan buah sebagai atribut.
(62) dua buah rumah
(63) dua rumah
Kata dua termasuk golongan numeralia. Oleh karena itu, frasa dua buah termasuk golongan frasa numeralia. Contoh lain:
(64) tiga ekor ayam
(65) lima botol minyak
(66) sepuluh helai sarung
Kata tiga, lima, sepuluh dalam frasa-frasa di atas termasuk golongan numeralia, sedangkan kata ekor, botol, helai disebut atribut.
Kemudian yang kedua kalimat luas , berikut penjelasan mengenai kalimat luas :
Kalimat Luas
Kalimat luas adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Kalimat luas itu bermacam-macam. Menurut Sumadi (2009:181), kalimat luas adalah kalimat yang terdiri atas lebih dari satu klausa. Kalimat luas memiliki struktur yang rumit atau kompleks karena terdiri atas lebih dari satu klausa. Dalam aliran tradisional, kalimat ini disebut kalimat majemuk, yaitu kalimat yang dapat dibagi lagi menjadi kalimat-kalimat lain yang lebih kecil yaitu kalimat luas setara, kalimat luas tidak setara, dan kalimat luas campuran.
Soedjito & Saryono (2012:105) menyatakan bahwa kalimat luas setara (kalimat majemuk setara) adalah kalimat luas yang klausaklausanya mempunyai kedudukan setara (sederajat) dalam struktur konstituen kalimat. Semua klausa dalam kalimat ini merupakan klausa inti. Dalam aliran tradisional, klausa inti ini disebut induk kalimat (Sumadi, 2009:181). Menurut Sumadi (2009:181), kalimat luas adalah kalimat yang terdiri atas lebih dari satu klausa. Kalimat luas memiliki struktur yang rumit atau kompleks karena terdiri atas lebih dari satu klausa. Dalam aliran tradisional, kalimat ini disebut kalimat majemuk, yaitu kalimat yang dapat dibagi lagi menjadi kalimat-kalimat lain yang lebih kecil.
Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu.
Pola kalimat I = kata benda-kata kerja. Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul. Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal”
Pola kalimat II = kata benda-kata sifat. Contoh: Anak malas. Gunung tinggi. Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif”
Pola kalimat III = kata benda-kata benda.Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional.
Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial. Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor. Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial
Suatu bentuk kalimat luas hasil penggabungan atau perluasan kalimat tunggal sehingga membentuk satu pola kalimat baru di samping pola yang ada.
a. Kalimat Luas Setara
Kalimat luas setara ialah struktur kalimat yang di dalamnya terdapat sekurang-kurangnya dua kalimat dasar dan masing-masing dapat berdiri sebagai kalimat tunggal disebut kalimat luas setara (koordinatif). Kalimat berikut terdiri atas dua kalimat dasar. Soedjito & Saryono (2012:105) menyatakan bahwa kalimat luas setara (kalimat majemuk setara) adalah kalimat luas yang klausaklausanya mempunyai kedudukan setara (sederajat) dalam struktur konstituen kalimat. Semua klausa dalam kalimat ini merupakan klausa inti. Dalam aliran tradisional, klausa inti ini disebut induk kalimat (Sumadi, 2009:181).
Contoh: Saya datang, dia pergi.
Kalimat itu terdiri atas dua kalimat dasar yaitu saya datang dan dia pergi. Jika kalimat dasar pertama ditiadakan, unsur dia pergi masih dapat berdiri sendiri sebagai kalimat mandiri. Demikian pula sebaliknya. Keduanya mempunyai kedudukan yang sama. Itulah sebabnya kalimat itu disebut kalimat luas setara.
Ciri-ciri kalimat luas antara lain sebagai berikut:
Kedudukan pola-pola kalimat, sama derajatnya.
Penggabungannya disertai perubahan intonasi.
Berkata tugas/penghubung, pembeda sifat kesetaraan.
Pola umum uraian jabatan kata : S-P+S-P
Kalimat luas setara dibentuk dari dua buah klausa atau lebih yang digabungkan menjadi sebuah kalimat, baik dengan bantuan kata penghubung ataupun tidak. Kedudukan klausa-klausa di dalam kalimat setara ini adalah sama derajatnya, yang satu tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain; atau yang satu mengikat atau terikat pada yang lain. Klausa-klausa itu mempunyai kedudukan yang bebas, sehingga kalau yang satu ditinggalkan, maka yang lain masih tetap berdiri sebagai sebuah klausa.
Pengabungan dua buah klausa menjadi kalimat luas setara ini memberikan makna yang menyatakan penggabungan :
1) Penambahan
Kalimat luas serta setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna penambahan dibentuk dari dua buah klausa atau lebih, biasanya dengan bantuan kata penghubung ”dan”.
Contoh : Selat Sunda terletak antara Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa dan Selat Bali antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali
2) Pertentangan
Kalimat luas setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna ’pertentangan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung tetapi atau sedangkan.
Contoh: Saya ingin melanjutkan belajar ke perguruan tinggi tetapiorang tua saya tidak mampu membiayainya.
3) Pemilihan
Kalimat luas setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna ’pemilihan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung atau.
Contoh : Barang-barang pesanan Tuan ini akan Tuan ambil sendiri,atau kami yang harus mengantarkannya ke alamat Tuan?
4) Penegasan
Kalimat luas setara yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’penegasan’ dibentuk dari dua buah klausa;biasanya dengan bantuan kata penghubung bahkan, malah, apalagi, dan lagipula.
Contoh : Anak-anak itu memang nakal, apalagi kalau tidak ada ibunya.
5) Pengurutan
Kalimat luas setara yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’pengurutan’ atau ’pengaturan’ dibentuk dari dua buah klausa atau lebih; biasanya dengan bantuan kata penghubunglalu, kemudian, dan sebagainya.
Contoh : Kami menoleh dulu ke kiri dan ke kanan, lalu segera berlari menyeberangi jalan yang ramai itu.
Alwi, dkk. (2003:388) menyatakan bahwa selain dan, ada beberapa konjungtor lain untuk menyusun hubungan koordinasi, yaitu atau, tetapi, serta, lalu, kemudian, lagipula, hanya, padahal, sedangkan, baik… maupun…, tidak… tetapi…, dan bukan(nya)… melainkan. Pada kalimat luas setara, klausa yang diawali oleh kata penghubung (konjungsi) tidak dapat diletakkan di awal kalimat. Apabila klausa yang diawali oleh kata penghubung diletakkan di awal kalimat, akan mengakibatkan kalimat tersebut tidak berterima. Alwi, dkk. (2003:394) menyatakan bahwa pada umumnya klausa yang diawali oleh koordinator dan, atau, dan tetapi tidak dapat diubah. Apabila posisinya diubah, perubahan ini mengakibatkan munculnya kalimat luas setara yang tidak berterima.
b. Kalimat Luas Bertingkat
Kalimat Luas Tidak Setara. Menurut Sumadi (2009:183), kalimat luas tidak setara adalah kalimat luas yang klausa-klausanya mempunyai kedudukan yang tidak setara/tidak sejajar/tidak sama.
Kalimat luas bertingkat ialah kalimat yang mengandung satu kalimat dasar yang merupakan inti (utama) dan satu atau beberapa kalimat dasar yang berfungsi sebagai pengisi salah satu unsur kalimat inti itu misalnya keterangan, subjek, atau objek dapat disebut sebagai kalimat luas bertingkat jika di antara kedua unsur itu digunakan konjungtor. Konjungtor inilah yang membedakan struktur kalimat luas bertingkat dari kalimat setara.
Kalimat luas bertingkat dibentuk dari dua buah klausa, yang digabungkan menjadi satu. Biasanya dengan bantuan kata penghubung sebab, kalau, meskipun, dan sebagainya. Kedudukan klausa-klausa di dalam kalimat luas bertingkat ini tidak sama derajatnya. Yang satu mempunyai kedudukan lebih tinggi dari yang lain; atau yang satu mengikat atau terikat pada yang lain.Penggabungan dua buah klausa menjadi kalimat luas bertingkat ini memberikan makna yang, antara lain, menyatakan :
1) Sebab
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’sebab’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat dengan bantuan kata penghubung karena atau sebab. Klausa pertama (klausa bebas) sebagai induk kalimat menyatakan sesuatu peristiwa yang terjadi sebagai akibat dari terjadinya peristiwa pada klausa kedua (klausa yang tidak bebas) yang menjadi anak kalimat pada kalimat bertingkat itu. Contoh: Karena tidak pandai berenang akhirnya dia hanyut terseret air.
Anak kalimat dan induk kalimat pada kalimat bertingkat ini dapat dipertukarkan tempatnya. Kalau anak kalimat mendahului induk kalimat maka di muka induk kalimat dapat pula ditempatkan kata penghubung maka, misalnya : Karena tidak pandai berenang, maka akhirnya dia terseret arus.
2) Akibat
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’akibat’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat dengan bantuan kata penghubung sampai, hingga, atau sehingga. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya sesuatu peristiwa yang mengakibatkan terjadinya peristiwa pada klausa kedua
Contoh : Tukang copet itu dipukuli orang ramai sampai mukanya babak belur.
Dalam kalimat luas bertingkat yang hubungannya menyatakan akibat ini, posisi anak kalimat selalu di belakang induk kalimat.
3) Syarat
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’syarat’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung kalau, jika, dan asal. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan akan terjadinya suatu peristiwa kalau sudah terjadi peristiwa lain yang dinyatakan pada klausa kedua atau anak kalimatnya. Namun, perlu diperhatikan urutan induk kalimat dan anak kalimat dapat dipertukarkan.Contoh : Saya akan hadir kalau saya di undang.
4) Tujuan
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’tujuan’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabung menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung agar, supaya, dan untuk. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya suatu perbuatan yang harus dilakukan agar peristiwa yang disebutkan dalam kalimat klausa kedua atau induk kalimat dapat berlangsung. Disini pun urutan kedua klausa itu dapat dipertukarkan.
Contoh : Jalan-jalan diperlebar agar lalu lintas menjadi lancar.
5) Waktu
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’waktu berlangsungnya sesuatu peristiwa’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung ketika, sesudah, sebelum dan sejak. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya suatu peristiwa atau perbuatan, sedangkan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan waktu terjadinya peristiwa induk kalimatnya.
Urutan anak kalimat dan induk kalimat dapat dipertukarkan tempatnya.
Contoh : Monumen Nasional itu dibuat ketika kamu masih kecil
6) Kesungguhan
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’kesungguhan’ dibentuk dari dua buah yang digabungkan menjadi menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung meskipun, biarpun, atau sungguhpun. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu peristiwa atau perbuatan, sedangkan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan peristiwa atau kondisi yang bertentangan untuk terjadinya peristiwa pada klausa pertama. Urutan induk kalimat dan anak kalimatnya dapat dipertukarkan
Contoh : Dia berangkat juga ke sekolah meskipun hujan turun lebat sekali
7) Pembatasan
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan ’pembatasan’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung kecuali atau hanya. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu perbuatan, dan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan pembatasan terhadap peristiwa pada anak kalimat.
Contoh : Semua soal itu dapat saya kerjakan dengan baik kecuali nomor 17 tidak sempat saya selesaikan. Di sini lazim juga kata penghubung kecuali dan hanya diikuti pula dengan kata penghubung kalau. Misalnya : Saya tentu akan datang memenuhi undanganmu kecualikalau ada halangan yang tidak bisa dihindarkan
8) Perbandingan
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-kluasanya menyatakan ’perbandingan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung seperti dan bagai. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu perbuatan, sedangkan kluasa kedua sebagai anak kalimat menyatakan perbuatan lain yang serupa dengan perbuatan pada induk kalimat. Contoh: Dengan cepat disambarnya tas nenek tua itu bagai elang menyambar anak ayam.
Selain jenis kalimat luas setara dan kalimat luas tak setara, masih ada pengelompokan lain dari kalimat luas yaitu berdasarkan pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat tersebut.
1. Pola Kalimat I
Pola kalimat luas yang pertama adalah “kata benda – kata kerja”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat verbal. Contoh kalimat luas pola I adalah:
Ibu memasak. (kata “ibu” : kata benda, sedangkan kata “memasak” : kata kerja)
2. Pola Kalimat II
Pola kalimat luas yang kedua adalah “kata benda – kata sifat”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat atributif. Contoh kalimat luas pola II adalah: Rumah mungil. (kata “rumah” : kata benda, sedangkan kata “mungil” : kata sifat)
3. Pola Kalimat III
Pola kalimat luas yang ketiga adalah “kata benda – kata benda”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Jenis kalimat ini seringkali mengandung kata bantu seperti adalah, menjadi, dan merupakan. Contoh kalimat luas pola III adalah: Ayah adalah pensiunan. (kata “ayah” : kata benda, sedangkan kata “penisunan” : kata benda)
4. Pola Kalimat IV
Pola kalimat luas yang keempat adalah “kata benda – adverbial”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat adverbial. Contoh kalimat luas pola IV adalah: Pak Ahmad dari kantor. (kata “Pak Ahmad” : kata benda, sedangkan kata “dari kantor” : adverbial).
Perbedaan antara kalimat luas setara dengan kalimat luas tidak setara terletak pada konjungsi yang digunakan. Konjungsi pada kalimat luas tidak setara digunakan sebagai penanda ketidaksetaraan tersebut dan hubungan antarklausanya. Pada kalimat luas tidak setara, klausa yang satu menjadi “bagian” dari klausa yang lain.
Klausa yang menjadi “bagian” dari klausa yang lain itu disebut klausa bukan inti. Dalam aliran tradisional, klausa bukan inti disebut anak kalimat.
Klausa yang ditandai konjungsi ini merupakan klausa bukan inti. Alwi, dkk. (2003:390) menyatakan bahwa konjungsi yang digunakan dalam kalimat luas tidak setara, di antaranya:
konjungsi waktu: setelah, sesudah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, sehingga;
konjungsi syarat: jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala;
konjungsi pengandaian: andaikan, seandainya, andaikata, sekiranya;
konjungsi tujuan: agar, supaya, biar;
konjungsi konsesif: biarpun, meski(pun), sungguhpun, sekalipun, walau(pun), kendati(pun);
konjungsi pembandingan atau kemiripan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, bagaikan, laksana, daripada, alih-alih, ibarat;
konjungsi sebab atau alasan: sebab, karena, oleh karena;
konjungsi hasil atau akibat: sehingga, sampai(-sampai);
konjungsi cara: dengan, tanpa;
konjungsi alat: dengan, tanpa. Klausa yang diikuti oleh konjungsi ketidaksetaraan tersebut biasanya menjadi anak kalimat.
Posisi klausa yang diawali oleh kata penghubung pada kalimat luas tidak setara bisa diletakkan di awal kalimat. Alwi, dkk. (2003:396) menyatakan bahwa pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh subordinator dapat berubah. Pengubahan posisi urutan klausa itu akan menghasilkan kalimat yang masih berterima. Alwi, dkk. (2003:391) menyatakan bahwa kalimat luas tidak setara dapat pula disusun dengan memperluas salah satu fungsi sintaksisnya (fungsi S, P, O, dan Ket) dengan klausa. Perluasan itu dilakukan dengan menggunakan yang. Klausa perluasan dengan yang yang disematkan dalam klausa utama disebut klausa relatif dan berfungsi sebagai keterangan bagi fungsi sintaktis tertentu. Kalimat Luas Campuran.
Sumadi (2009:186) menyatakan bahwa kalimat luas campuran adalah kalimat luas yang klausa-klausanya ada yang mempunyai kedudukan yang setara dan ada yang mempunyai kedudukan yang tidak setara. Kalimat luas campuran paling sedikit terdiri atas tiga klausa. Klausa yang setara berupa klausa inti dan dapat pula berupa klausa bukan inti. Berikut ini merupakan contoh penggunaan kalimat luas campuran. Ketika Singa itu mandi, Serigala itu kelaparan dan ia ingin menyantap otaknya. Kalimat tersebut terdiri atas tiga klausa. Klausa-klausa itu adalah
Singa itu mandi,
Serigala itu kelaparan, dan
ia ingin menyantap otaknya.
Penggunaan kalimat luas campuran dalam teks tersebut menunjukkan bahwa teks tersebut menggunakan struktur kalimat yang kompleks. Hal ini karena kalimat luas tersebut terdiri atas lebih dari satu klausa. Kalimat tidak berterima juga ditemukan dalam teks penulisan kembali dongeng yang ditulis siswa. Kalimat yang tidak berterima ini ditemukan pada kalimat sederhana dan kalimat luas. Kalimat-kalimat tersebut tidak berterima disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya faktor gramatikal dan faktor semantik. Chaer (2009:233) menyatakan bahwa yang menentukan keberterimaan sebuah kalimat adalah faktor gramatikal, faktor semantik, dan faktor nalar. Penggunaan kalimat tidak berterima seperti ini sangat mungkin terjadi dalam kegiatan menulis kembali dongeng. Hal ini karena teks dongeng yang menjadi sumber tulisan merupakan salah satu bentuk narasi sugestif.
Keraf (2007: 139) menyatakan bahwa bahasa yang digunakan dalam narasi sugestif lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitik beratkan penggunaan kata-kata konotatif. Oleh karena itu, penggunaan kalimat yang tidak sesuai dengan tata bahasa baku sangat dimungkinkan terjadi. Teks dongeng juga termasuk salah satu jenis karya sastra.
Nurgiyantoro (2000:293) menyatakan bahwa dalam sastra pengarang mempunyai kebebasan penuh dalam mengkreasikan bahasa. Adanya berbagai bentuk penyimpangan kebahasaan, termasuk penyimpangan struktur kalimat merupakan hal yang wajar dan sering terjadi. Penyimpangan struktur kalimat itu bermacam-macam wujudnya, bisa berupa pembalikan, pemendekan, pengulangan, penghilangan unsur tertentu, dan lain-lain. Berbagai bentuk penyimpangan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan efek estetis dan menekankan pesan tertentu. Pelesapan atau elipsis juga ditemukan dalam teks penulisan kembali dongeng yang ditulis siswa. Pelesapan tersebut ditemukan pada kalimat luas.
Alwi, dkk. (2003:415) menyatakan bahwa pelesapan atau elipsis adalah penghilangan unsur tertentu dari satu kalimat atau teks. Pelesapan dimaksudkan untuk menghilangkan kemubaziran (redundansi) (Soedjito & Saryono, 2012:138). Pada teks penulisan kembali dongeng yang ditulis siswa, pelesapan yang ditemukan berupa pelesapan anaforis dan pelesapan kataforis. Alwi, dkk. (2003:415) menyatakan bahwa pelesapan yang antesedennya mendahului unsur yang dilesapkan disebut pelesapan anaforis, sedangkan pelesapan yang antesedennya mengikuti unsur yang dilesapkan disebut pelesapan kataforis. Anteseden adalah unsur yang sama yang tidak dilesapkan dalam kalimat. Soedjito & Saryono (2012:139) menyatakan bahwa pada kalimat majemuk bertingkat (kalimat luas tidak setara) dapat terjadi dua macam pelesapan, yaitu
pelesapan anaforis dan
pelesapan kataforis.
Pelesapan pada kalimat majemuk bertingkat itu selalu terjadi pada klausa bukan inti atau anak kalimat, bukan pada klausa inti atau induk kalimat. Pada kalimat majemuk setara (kalimat luas setara), hanya dapat terjadi satu macam pelesapan, yaitu pelesapan anaforis sebab antesedennya selalu mendahului (di kiri) unsur yang dilesapkan. Pelesapan seperti ini sangat mungkin terjadi dalam kegiatan menulis kembali dongeng. Hal ini karena teks dongeng yang menjadi sumber tulisan merupakan salah satu bentuk narasi sugestif.
Keraf (2007:138) menyatakan bahwa narasi sugestif lebih menekankan pada penyampaian suatu makna atau amanat. Dalam teks narasi sugestif, pengarang mempunyai kebebasan penuh dalam mengkreasikan bahasa. Adanya berbagai bentuk pelesepan kata dalam suatu kalimat merupakan hal yang wajar dan sering terjadi. Pelepasan itu dimaksudkan untuk mendapatkan efek estetis dan menekankan pesan tertentu. Penggunaan artikula yang bersifat gelar, yaitu Si dan Sang juga ditemukan dalam teks penulisan kembali dongeng yang ditulis siswa.
Alwi, dkk. (2003:304) menyatakan bahwa artikula merupakan kata tugas yang membatasi makna nomina. Artikula Si lazimnya digunakan di depan nama pada ragam akrab atau kurang hormat. Artikula Si juga digunakan untuk menominalkan sesuatu, dapat mengacu ke makna tunggal atau generik, bergantung pada konteks kalimatnya. Artikula Sang digunakan di depan nama orang, binatang, atau benda yang dianggap hidup untuk meninggikan martabat.
Penggunaan kalimat dalam teks penulisan kembali dongeng yang ditulis siswa memiliki kekhasan yang membedakan dengan penggunaan kalimat dalam teks hasil pekerjaan siswa yang lain. Penggunaan kalimat dalam teks penulisan kembali dongeng hasil pekerjaan siswa sebagian besar menggunakan kalimat luas sehingga struktur kalimatnya menjadi rumit atau kompleks. Walaupun sebagaian besar kalimat yang digunakan memiliki struktur yang rumit atau kompleks, kalimat yang digunakan tersebut berupa kalimat yang langsung atau tersurat, sehingga makna yang terdapat dalam kalimat tersebut sesuai dengan makna yang tertulis. Hal ini berhubungan dengan penguasaan anak terhadap penggunaan gaya bahasa yang masih terbatas.
SUMBER :
http://kakakpintar.com/contoh-kalimat-tunggal-dan-pengertiannya-adalah/
http://www.ilmusaudara.com/2016/06/pengertian-kalimat-nominal-serta-contoh.html?m=1
https://www.google.co.id/amp/s/dosenbahasa.com/berikan-contoh-kalimat-tunggal-berpredikat-numeral/amp
file:///C:/Users/Windows/Documents/UAS%20SINTAKSIS/artikelC80D8E30FD1107C40D430B307A55CD94.pdf
file:///C:/Users/Windows/Documents/UAS%20SINTAKSIS/Sintaksis-Bahasa-Indonesia.pdf
Disusun untuk Memenuhi Tugas Uas Mata Kuliah Sintaksis
Dosen Pengampu : Dr. Rustam S.Pd, M.Hum

Disusun oleh:
Siti Mawansari (A1B116003)
Dwi Mulyadi (A1B116035)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAMBI
2016/2017
A. Pengertian kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik-turun, keras-lembut, disela-jeda dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf berlatih kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!). Pendapat lain mengatakan,’’kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun.’’ Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tulisan harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). Kalau tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Deretan kata yang seperti itu hanya dapat disebut sebagai frasa. Kalau dilihat dari hal predikat kalimat-kalimat dalam bahasa indonesia ada dua macam, yaitu :
1. Kalimat-kalimat yang ber predikat kata kerja, dan
2. Kalimat-kalimat yang berpredikat bukan kata kerja.
Akan tetapi, dalam pemakaian sehari-hari kalimat yang berpredikat kata kerja lebih besar jumlahnya daripada kalimat yang berpredikat bukan kata kerja. Hal itu membantu kita dengan mudah untuk menentukan predikat sebuah kalimat. Oleh sebab itu,kalau ada kata kerja dalam satu untaian kalimat, kata kerja itu dicadangkan sebagai predikat dalam kalimat itu.
Contoh: Tugas itu dikerjakan oleh para mahasiswa.
Kata kerja dalam kalimat ini dikerjakan. Kata dikerjakan adalah predikat dalam kalimat.
Setelah ditemukan predikat dalam kalimat itu, subjek ditemukan dengan cara bertanya menggunakan predikat, sebagai berikut:
Apa yang dikerjakan oleh para mahasiswa?
Jawaban pertanyaan itu ialah tugas itu. Kata tugas itu merupakan subjek kalimat. Kalau tidak ada kata yang dapat dijadikan jawaban pertanyaan itu. Hal itu berarti bahwa subjek tidak ada. Dengan demikian, pernyataan dalam bentuk deretan kata-kata itu bukanlah kalimat.
Kalau dalam suatu pernyataan tidak terdapat kata kerja, kata yang dapat kita cadangkan sebagai predikat ialah kata sifat. Disamping itu, kata bilangan dan kata benda pun dapat dijadikan sebagai predikat. Predikat itu dapat pula berupa frasa depan.
Sudah dijelaskan di atas bahwa mencari subjek sebuah kalimat adalah dengan cara bertanya melalui predikat dengan pertanyaan.
Siapa yang atau Apa yang + …… predikat.
Bagaimana halnya dengan objek? Unsur objek dalam kalimat hanya ditemukan dalam kalimat yang berpredikat kata kerja. Namun, tidak semua kalimat yang berpredikat kata kerja harus mempunyai objek. Objek itu hanya muncul pada kalimat yang berpredikat kata kerja transitif. Objek tidak dapat mendahului predikat karena predikat dan objek merupakan suatu kesatuan.
Jika dilihat dari segi makna kalimat objek merupakan unsur yang harus hadir setelah predikat yang berupa verbal transitif. Coba anda perhatikan pernyataan dibawah ini.
Ekspor non migas mendatangkan.
Frasa ekspor nonmigas merupakan subjek kalimat, sedangkan kata mendatangkan adalah unsur predikat yang berupa verba transitif. Kalimat ini belum memberikan informasi yang lengkap sebab belum ada kejelasan tentang mendatangkan itu. Oleh sebab itu, agar kalimat itu dapat memberikan informasi yang jelas, predikatnya harus dilengkapi seperti kalimat dibawah ini.
Ekspor nonmigas medatangkan keuntungan.
S P O
Andai kata suatu kalimat sudah mengandung kelengkapan makna dengan hanya memiliki subjek dan predikat yang berupa verba intransitif, objek tidak diperlukan lagi. Kalimat dibawah ini tidak memerlukan objek.
Penanaman modal asing berkembang.
S P
Kalimat itu sudah lengkap dan jelas. Jadi, unsur subjeknya adalah penanaman modal asing dan unsur predikatnya adalah berkembang. Kalimat itu telah memberikan informasi yang jelas. Kalimat itu tidak perlu dilengkapi lagi. Andai kata di belakang unsur berkembang ditambah dengan sebuah kata atau beberapa kata, unsur tambahan itu bukan objek, melainkan keterangan.
Misalnya:
Penanaman modal asing berkembang saat ini.
S P K
Kaliamat itu dibagi menjadi dua , yaitu kalimat sederhana dan kalimat luas.
Kalimat sederhana itu dibagi menjadi 7 salah satunya yaitu kalimat numeral.
Kalimat Numeral
Kalimat Numeral yakni kalimat yang predikatnya berupa frase numeral, dibentuk dari sebuah klausa numeral dan intonasi final. Contoh :
Gaji beliau lima juta sebulan
S P Ket.
Contoh lain :
Anaknya sembilan orang
Jaraknya dua kilometer dari sini
Mobil kami tiga buah
Anak anjingnya lima ekor
Catatan :
Dalam bahasa ragaam formal harus dimunculkan predikat verbalnya, atau kata pemisah atau kopula. Contoh :
Gaji beliau adalah lima juta sebulan
Anaknya ada sembilan orang
Jaraknya adalah dua kilometer dari sini
Mobil kami ada tiga buah
Anak anjingnya berjumlah tiga ekor
Kalimat tunggal numeral juga merupakan kalimat tunggal yang predikatnya berupa kata bilangan.Contoh :
– Hadirin sejumlah puluhan orang.
Subyek = Hadirin , Predikat = puluhan orang (numeral)
– Vino berhari-hari di depan toko itu.
Subyek = Vino , Predikat = berhari-hari (numeral) , Obyek= di depan toko itu
Kalimat Numeral adalah kalimat yang P-nya berupa kata bilangan.
Misalnya : (1) Mobilnya dua .
S P
(2) Yang hadir enam belas orang.
S P
(3) Kerbaunya tujuh ekor.
S P
(4) Temannya tiga puluh anak per kelas.
S P
Kata-kata : dua, enam belas orang, tujuh ekor, dan tiga puluh anak per kelas adalah kata bilangan. Karena itulah kalimat-kalimat tersebut dinamakan kalimat numeralia.
Kemudian ada yang namanya frasa, adapun jenis-jenis frasa yaitu Frasa Nomina, Frasa Verba, Frasa Numeralia, Frasa Ajektiva, Frasa Keterangan dan Frasa Preposisional, yang akan kita bahas yaitu frasa numeralia .
Frasa Numeralia
Frasa numeralia adalah frasa yang mempunyai inti berupa numeralia sebagai UP, misalnya frasa dua buah dalam dua buah rumah yang mempunyai unsur inti dua sebagai numeralia dan buah sebagai atribut.
(62) dua buah rumah
(63) dua rumah
Kata dua termasuk golongan numeralia. Oleh karena itu, frasa dua buah termasuk golongan frasa numeralia. Contoh lain:
(64) tiga ekor ayam
(65) lima botol minyak
(66) sepuluh helai sarung
Kata tiga, lima, sepuluh dalam frasa-frasa di atas termasuk golongan numeralia, sedangkan kata ekor, botol, helai disebut atribut.
Kemudian yang kedua kalimat luas , berikut penjelasan mengenai kalimat luas :
Kalimat Luas
Kalimat luas adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Kalimat luas itu bermacam-macam. Menurut Sumadi (2009:181), kalimat luas adalah kalimat yang terdiri atas lebih dari satu klausa. Kalimat luas memiliki struktur yang rumit atau kompleks karena terdiri atas lebih dari satu klausa. Dalam aliran tradisional, kalimat ini disebut kalimat majemuk, yaitu kalimat yang dapat dibagi lagi menjadi kalimat-kalimat lain yang lebih kecil yaitu kalimat luas setara, kalimat luas tidak setara, dan kalimat luas campuran.
Soedjito & Saryono (2012:105) menyatakan bahwa kalimat luas setara (kalimat majemuk setara) adalah kalimat luas yang klausaklausanya mempunyai kedudukan setara (sederajat) dalam struktur konstituen kalimat. Semua klausa dalam kalimat ini merupakan klausa inti. Dalam aliran tradisional, klausa inti ini disebut induk kalimat (Sumadi, 2009:181). Menurut Sumadi (2009:181), kalimat luas adalah kalimat yang terdiri atas lebih dari satu klausa. Kalimat luas memiliki struktur yang rumit atau kompleks karena terdiri atas lebih dari satu klausa. Dalam aliran tradisional, kalimat ini disebut kalimat majemuk, yaitu kalimat yang dapat dibagi lagi menjadi kalimat-kalimat lain yang lebih kecil.
Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu.
Pola kalimat I = kata benda-kata kerja. Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul. Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal”
Pola kalimat II = kata benda-kata sifat. Contoh: Anak malas. Gunung tinggi. Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif”
Pola kalimat III = kata benda-kata benda.Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional.
Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial. Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor. Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial
Suatu bentuk kalimat luas hasil penggabungan atau perluasan kalimat tunggal sehingga membentuk satu pola kalimat baru di samping pola yang ada.
a. Kalimat Luas Setara
Kalimat luas setara ialah struktur kalimat yang di dalamnya terdapat sekurang-kurangnya dua kalimat dasar dan masing-masing dapat berdiri sebagai kalimat tunggal disebut kalimat luas setara (koordinatif). Kalimat berikut terdiri atas dua kalimat dasar. Soedjito & Saryono (2012:105) menyatakan bahwa kalimat luas setara (kalimat majemuk setara) adalah kalimat luas yang klausaklausanya mempunyai kedudukan setara (sederajat) dalam struktur konstituen kalimat. Semua klausa dalam kalimat ini merupakan klausa inti. Dalam aliran tradisional, klausa inti ini disebut induk kalimat (Sumadi, 2009:181).
Contoh: Saya datang, dia pergi.
Kalimat itu terdiri atas dua kalimat dasar yaitu saya datang dan dia pergi. Jika kalimat dasar pertama ditiadakan, unsur dia pergi masih dapat berdiri sendiri sebagai kalimat mandiri. Demikian pula sebaliknya. Keduanya mempunyai kedudukan yang sama. Itulah sebabnya kalimat itu disebut kalimat luas setara.
Ciri-ciri kalimat luas antara lain sebagai berikut:
Kedudukan pola-pola kalimat, sama derajatnya.
Penggabungannya disertai perubahan intonasi.
Berkata tugas/penghubung, pembeda sifat kesetaraan.
Pola umum uraian jabatan kata : S-P+S-P
Kalimat luas setara dibentuk dari dua buah klausa atau lebih yang digabungkan menjadi sebuah kalimat, baik dengan bantuan kata penghubung ataupun tidak. Kedudukan klausa-klausa di dalam kalimat setara ini adalah sama derajatnya, yang satu tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain; atau yang satu mengikat atau terikat pada yang lain. Klausa-klausa itu mempunyai kedudukan yang bebas, sehingga kalau yang satu ditinggalkan, maka yang lain masih tetap berdiri sebagai sebuah klausa.
Pengabungan dua buah klausa menjadi kalimat luas setara ini memberikan makna yang menyatakan penggabungan :
1) Penambahan
Kalimat luas serta setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna penambahan dibentuk dari dua buah klausa atau lebih, biasanya dengan bantuan kata penghubung ”dan”.
Contoh : Selat Sunda terletak antara Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa dan Selat Bali antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali
2) Pertentangan
Kalimat luas setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna ’pertentangan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung tetapi atau sedangkan.
Contoh: Saya ingin melanjutkan belajar ke perguruan tinggi tetapiorang tua saya tidak mampu membiayainya.
3) Pemilihan
Kalimat luas setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna ’pemilihan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung atau.
Contoh : Barang-barang pesanan Tuan ini akan Tuan ambil sendiri,atau kami yang harus mengantarkannya ke alamat Tuan?
4) Penegasan
Kalimat luas setara yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’penegasan’ dibentuk dari dua buah klausa;biasanya dengan bantuan kata penghubung bahkan, malah, apalagi, dan lagipula.
Contoh : Anak-anak itu memang nakal, apalagi kalau tidak ada ibunya.
5) Pengurutan
Kalimat luas setara yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’pengurutan’ atau ’pengaturan’ dibentuk dari dua buah klausa atau lebih; biasanya dengan bantuan kata penghubunglalu, kemudian, dan sebagainya.
Contoh : Kami menoleh dulu ke kiri dan ke kanan, lalu segera berlari menyeberangi jalan yang ramai itu.
Alwi, dkk. (2003:388) menyatakan bahwa selain dan, ada beberapa konjungtor lain untuk menyusun hubungan koordinasi, yaitu atau, tetapi, serta, lalu, kemudian, lagipula, hanya, padahal, sedangkan, baik… maupun…, tidak… tetapi…, dan bukan(nya)… melainkan. Pada kalimat luas setara, klausa yang diawali oleh kata penghubung (konjungsi) tidak dapat diletakkan di awal kalimat. Apabila klausa yang diawali oleh kata penghubung diletakkan di awal kalimat, akan mengakibatkan kalimat tersebut tidak berterima. Alwi, dkk. (2003:394) menyatakan bahwa pada umumnya klausa yang diawali oleh koordinator dan, atau, dan tetapi tidak dapat diubah. Apabila posisinya diubah, perubahan ini mengakibatkan munculnya kalimat luas setara yang tidak berterima.
b. Kalimat Luas Bertingkat
Kalimat Luas Tidak Setara. Menurut Sumadi (2009:183), kalimat luas tidak setara adalah kalimat luas yang klausa-klausanya mempunyai kedudukan yang tidak setara/tidak sejajar/tidak sama.
Kalimat luas bertingkat ialah kalimat yang mengandung satu kalimat dasar yang merupakan inti (utama) dan satu atau beberapa kalimat dasar yang berfungsi sebagai pengisi salah satu unsur kalimat inti itu misalnya keterangan, subjek, atau objek dapat disebut sebagai kalimat luas bertingkat jika di antara kedua unsur itu digunakan konjungtor. Konjungtor inilah yang membedakan struktur kalimat luas bertingkat dari kalimat setara.
Kalimat luas bertingkat dibentuk dari dua buah klausa, yang digabungkan menjadi satu. Biasanya dengan bantuan kata penghubung sebab, kalau, meskipun, dan sebagainya. Kedudukan klausa-klausa di dalam kalimat luas bertingkat ini tidak sama derajatnya. Yang satu mempunyai kedudukan lebih tinggi dari yang lain; atau yang satu mengikat atau terikat pada yang lain.Penggabungan dua buah klausa menjadi kalimat luas bertingkat ini memberikan makna yang, antara lain, menyatakan :
1) Sebab
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’sebab’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat dengan bantuan kata penghubung karena atau sebab. Klausa pertama (klausa bebas) sebagai induk kalimat menyatakan sesuatu peristiwa yang terjadi sebagai akibat dari terjadinya peristiwa pada klausa kedua (klausa yang tidak bebas) yang menjadi anak kalimat pada kalimat bertingkat itu. Contoh: Karena tidak pandai berenang akhirnya dia hanyut terseret air.
Anak kalimat dan induk kalimat pada kalimat bertingkat ini dapat dipertukarkan tempatnya. Kalau anak kalimat mendahului induk kalimat maka di muka induk kalimat dapat pula ditempatkan kata penghubung maka, misalnya : Karena tidak pandai berenang, maka akhirnya dia terseret arus.
2) Akibat
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’akibat’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat dengan bantuan kata penghubung sampai, hingga, atau sehingga. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya sesuatu peristiwa yang mengakibatkan terjadinya peristiwa pada klausa kedua
Contoh : Tukang copet itu dipukuli orang ramai sampai mukanya babak belur.
Dalam kalimat luas bertingkat yang hubungannya menyatakan akibat ini, posisi anak kalimat selalu di belakang induk kalimat.
3) Syarat
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’syarat’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung kalau, jika, dan asal. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan akan terjadinya suatu peristiwa kalau sudah terjadi peristiwa lain yang dinyatakan pada klausa kedua atau anak kalimatnya. Namun, perlu diperhatikan urutan induk kalimat dan anak kalimat dapat dipertukarkan.Contoh : Saya akan hadir kalau saya di undang.
4) Tujuan
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’tujuan’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabung menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung agar, supaya, dan untuk. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya suatu perbuatan yang harus dilakukan agar peristiwa yang disebutkan dalam kalimat klausa kedua atau induk kalimat dapat berlangsung. Disini pun urutan kedua klausa itu dapat dipertukarkan.
Contoh : Jalan-jalan diperlebar agar lalu lintas menjadi lancar.
5) Waktu
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’waktu berlangsungnya sesuatu peristiwa’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung ketika, sesudah, sebelum dan sejak. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya suatu peristiwa atau perbuatan, sedangkan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan waktu terjadinya peristiwa induk kalimatnya.
Urutan anak kalimat dan induk kalimat dapat dipertukarkan tempatnya.
Contoh : Monumen Nasional itu dibuat ketika kamu masih kecil
6) Kesungguhan
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’kesungguhan’ dibentuk dari dua buah yang digabungkan menjadi menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung meskipun, biarpun, atau sungguhpun. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu peristiwa atau perbuatan, sedangkan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan peristiwa atau kondisi yang bertentangan untuk terjadinya peristiwa pada klausa pertama. Urutan induk kalimat dan anak kalimatnya dapat dipertukarkan
Contoh : Dia berangkat juga ke sekolah meskipun hujan turun lebat sekali
7) Pembatasan
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan ’pembatasan’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung kecuali atau hanya. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu perbuatan, dan klausa kedua sebagai anak kalimat menyatakan pembatasan terhadap peristiwa pada anak kalimat.
Contoh : Semua soal itu dapat saya kerjakan dengan baik kecuali nomor 17 tidak sempat saya selesaikan. Di sini lazim juga kata penghubung kecuali dan hanya diikuti pula dengan kata penghubung kalau. Misalnya : Saya tentu akan datang memenuhi undanganmu kecualikalau ada halangan yang tidak bisa dihindarkan
8) Perbandingan
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-kluasanya menyatakan ’perbandingan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung seperti dan bagai. Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan suatu perbuatan, sedangkan kluasa kedua sebagai anak kalimat menyatakan perbuatan lain yang serupa dengan perbuatan pada induk kalimat. Contoh: Dengan cepat disambarnya tas nenek tua itu bagai elang menyambar anak ayam.
Selain jenis kalimat luas setara dan kalimat luas tak setara, masih ada pengelompokan lain dari kalimat luas yaitu berdasarkan pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat tersebut.
1. Pola Kalimat I
Pola kalimat luas yang pertama adalah “kata benda – kata kerja”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat verbal. Contoh kalimat luas pola I adalah:
Ibu memasak. (kata “ibu” : kata benda, sedangkan kata “memasak” : kata kerja)
2. Pola Kalimat II
Pola kalimat luas yang kedua adalah “kata benda – kata sifat”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat atributif. Contoh kalimat luas pola II adalah: Rumah mungil. (kata “rumah” : kata benda, sedangkan kata “mungil” : kata sifat)
3. Pola Kalimat III
Pola kalimat luas yang ketiga adalah “kata benda – kata benda”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Jenis kalimat ini seringkali mengandung kata bantu seperti adalah, menjadi, dan merupakan. Contoh kalimat luas pola III adalah: Ayah adalah pensiunan. (kata “ayah” : kata benda, sedangkan kata “penisunan” : kata benda)
4. Pola Kalimat IV
Pola kalimat luas yang keempat adalah “kata benda – adverbial”. Nama lain untuk kalimat jenis ini adalah kalimat adverbial. Contoh kalimat luas pola IV adalah: Pak Ahmad dari kantor. (kata “Pak Ahmad” : kata benda, sedangkan kata “dari kantor” : adverbial).
Perbedaan antara kalimat luas setara dengan kalimat luas tidak setara terletak pada konjungsi yang digunakan. Konjungsi pada kalimat luas tidak setara digunakan sebagai penanda ketidaksetaraan tersebut dan hubungan antarklausanya. Pada kalimat luas tidak setara, klausa yang satu menjadi “bagian” dari klausa yang lain.
Klausa yang menjadi “bagian” dari klausa yang lain itu disebut klausa bukan inti. Dalam aliran tradisional, klausa bukan inti disebut anak kalimat.
Klausa yang ditandai konjungsi ini merupakan klausa bukan inti. Alwi, dkk. (2003:390) menyatakan bahwa konjungsi yang digunakan dalam kalimat luas tidak setara, di antaranya:
konjungsi waktu: setelah, sesudah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, sehingga;
konjungsi syarat: jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala;
konjungsi pengandaian: andaikan, seandainya, andaikata, sekiranya;
konjungsi tujuan: agar, supaya, biar;
konjungsi konsesif: biarpun, meski(pun), sungguhpun, sekalipun, walau(pun), kendati(pun);
konjungsi pembandingan atau kemiripan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, bagaikan, laksana, daripada, alih-alih, ibarat;
konjungsi sebab atau alasan: sebab, karena, oleh karena;
konjungsi hasil atau akibat: sehingga, sampai(-sampai);
konjungsi cara: dengan, tanpa;
konjungsi alat: dengan, tanpa. Klausa yang diikuti oleh konjungsi ketidaksetaraan tersebut biasanya menjadi anak kalimat.
Posisi klausa yang diawali oleh kata penghubung pada kalimat luas tidak setara bisa diletakkan di awal kalimat. Alwi, dkk. (2003:396) menyatakan bahwa pada umumnya posisi klausa yang diawali oleh subordinator dapat berubah. Pengubahan posisi urutan klausa itu akan menghasilkan kalimat yang masih berterima. Alwi, dkk. (2003:391) menyatakan bahwa kalimat luas tidak setara dapat pula disusun dengan memperluas salah satu fungsi sintaksisnya (fungsi S, P, O, dan Ket) dengan klausa. Perluasan itu dilakukan dengan menggunakan yang. Klausa perluasan dengan yang yang disematkan dalam klausa utama disebut klausa relatif dan berfungsi sebagai keterangan bagi fungsi sintaktis tertentu. Kalimat Luas Campuran.
Sumadi (2009:186) menyatakan bahwa kalimat luas campuran adalah kalimat luas yang klausa-klausanya ada yang mempunyai kedudukan yang setara dan ada yang mempunyai kedudukan yang tidak setara. Kalimat luas campuran paling sedikit terdiri atas tiga klausa. Klausa yang setara berupa klausa inti dan dapat pula berupa klausa bukan inti. Berikut ini merupakan contoh penggunaan kalimat luas campuran. Ketika Singa itu mandi, Serigala itu kelaparan dan ia ingin menyantap otaknya. Kalimat tersebut terdiri atas tiga klausa. Klausa-klausa itu adalah
Singa itu mandi,
Serigala itu kelaparan, dan
ia ingin menyantap otaknya.
Penggunaan kalimat luas campuran dalam teks tersebut menunjukkan bahwa teks tersebut menggunakan struktur kalimat yang kompleks. Hal ini karena kalimat luas tersebut terdiri atas lebih dari satu klausa. Kalimat tidak berterima juga ditemukan dalam teks penulisan kembali dongeng yang ditulis siswa. Kalimat yang tidak berterima ini ditemukan pada kalimat sederhana dan kalimat luas. Kalimat-kalimat tersebut tidak berterima disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya faktor gramatikal dan faktor semantik. Chaer (2009:233) menyatakan bahwa yang menentukan keberterimaan sebuah kalimat adalah faktor gramatikal, faktor semantik, dan faktor nalar. Penggunaan kalimat tidak berterima seperti ini sangat mungkin terjadi dalam kegiatan menulis kembali dongeng. Hal ini karena teks dongeng yang menjadi sumber tulisan merupakan salah satu bentuk narasi sugestif.
Keraf (2007: 139) menyatakan bahwa bahasa yang digunakan dalam narasi sugestif lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitik beratkan penggunaan kata-kata konotatif. Oleh karena itu, penggunaan kalimat yang tidak sesuai dengan tata bahasa baku sangat dimungkinkan terjadi. Teks dongeng juga termasuk salah satu jenis karya sastra.
Nurgiyantoro (2000:293) menyatakan bahwa dalam sastra pengarang mempunyai kebebasan penuh dalam mengkreasikan bahasa. Adanya berbagai bentuk penyimpangan kebahasaan, termasuk penyimpangan struktur kalimat merupakan hal yang wajar dan sering terjadi. Penyimpangan struktur kalimat itu bermacam-macam wujudnya, bisa berupa pembalikan, pemendekan, pengulangan, penghilangan unsur tertentu, dan lain-lain. Berbagai bentuk penyimpangan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan efek estetis dan menekankan pesan tertentu. Pelesapan atau elipsis juga ditemukan dalam teks penulisan kembali dongeng yang ditulis siswa. Pelesapan tersebut ditemukan pada kalimat luas.
Alwi, dkk. (2003:415) menyatakan bahwa pelesapan atau elipsis adalah penghilangan unsur tertentu dari satu kalimat atau teks. Pelesapan dimaksudkan untuk menghilangkan kemubaziran (redundansi) (Soedjito & Saryono, 2012:138). Pada teks penulisan kembali dongeng yang ditulis siswa, pelesapan yang ditemukan berupa pelesapan anaforis dan pelesapan kataforis. Alwi, dkk. (2003:415) menyatakan bahwa pelesapan yang antesedennya mendahului unsur yang dilesapkan disebut pelesapan anaforis, sedangkan pelesapan yang antesedennya mengikuti unsur yang dilesapkan disebut pelesapan kataforis. Anteseden adalah unsur yang sama yang tidak dilesapkan dalam kalimat. Soedjito & Saryono (2012:139) menyatakan bahwa pada kalimat majemuk bertingkat (kalimat luas tidak setara) dapat terjadi dua macam pelesapan, yaitu
pelesapan anaforis dan
pelesapan kataforis.
Pelesapan pada kalimat majemuk bertingkat itu selalu terjadi pada klausa bukan inti atau anak kalimat, bukan pada klausa inti atau induk kalimat. Pada kalimat majemuk setara (kalimat luas setara), hanya dapat terjadi satu macam pelesapan, yaitu pelesapan anaforis sebab antesedennya selalu mendahului (di kiri) unsur yang dilesapkan. Pelesapan seperti ini sangat mungkin terjadi dalam kegiatan menulis kembali dongeng. Hal ini karena teks dongeng yang menjadi sumber tulisan merupakan salah satu bentuk narasi sugestif.
Keraf (2007:138) menyatakan bahwa narasi sugestif lebih menekankan pada penyampaian suatu makna atau amanat. Dalam teks narasi sugestif, pengarang mempunyai kebebasan penuh dalam mengkreasikan bahasa. Adanya berbagai bentuk pelesepan kata dalam suatu kalimat merupakan hal yang wajar dan sering terjadi. Pelepasan itu dimaksudkan untuk mendapatkan efek estetis dan menekankan pesan tertentu. Penggunaan artikula yang bersifat gelar, yaitu Si dan Sang juga ditemukan dalam teks penulisan kembali dongeng yang ditulis siswa.
Alwi, dkk. (2003:304) menyatakan bahwa artikula merupakan kata tugas yang membatasi makna nomina. Artikula Si lazimnya digunakan di depan nama pada ragam akrab atau kurang hormat. Artikula Si juga digunakan untuk menominalkan sesuatu, dapat mengacu ke makna tunggal atau generik, bergantung pada konteks kalimatnya. Artikula Sang digunakan di depan nama orang, binatang, atau benda yang dianggap hidup untuk meninggikan martabat.
Penggunaan kalimat dalam teks penulisan kembali dongeng yang ditulis siswa memiliki kekhasan yang membedakan dengan penggunaan kalimat dalam teks hasil pekerjaan siswa yang lain. Penggunaan kalimat dalam teks penulisan kembali dongeng hasil pekerjaan siswa sebagian besar menggunakan kalimat luas sehingga struktur kalimatnya menjadi rumit atau kompleks. Walaupun sebagaian besar kalimat yang digunakan memiliki struktur yang rumit atau kompleks, kalimat yang digunakan tersebut berupa kalimat yang langsung atau tersurat, sehingga makna yang terdapat dalam kalimat tersebut sesuai dengan makna yang tertulis. Hal ini berhubungan dengan penguasaan anak terhadap penggunaan gaya bahasa yang masih terbatas.
SUMBER :
http://kakakpintar.com/contoh-kalimat-tunggal-dan-pengertiannya-adalah/
http://www.ilmusaudara.com/2016/06/pengertian-kalimat-nominal-serta-contoh.html?m=1
https://www.google.co.id/amp/s/dosenbahasa.com/berikan-contoh-kalimat-tunggal-berpredikat-numeral/amp
file:///C:/Users/Windows/Documents/UAS%20SINTAKSIS/artikelC80D8E30FD1107C40D430B307A55CD94.pdf
file:///C:/Users/Windows/Documents/UAS%20SINTAKSIS/Sintaksis-Bahasa-Indonesia.pdf
Harrah's Hotel and Casino - Mapyro
ReplyDeleteFind Harrah's Hotel and Casino, Reno, Nevada, United 영천 출장샵 States, phone number, reviews, 영주 출장마사지 map, reviews, photos, directions, and more 동해 출장샵 for Harrah's Hotel and Casino in Reno, Rating: 8.6/10 · 1,207 reviews · Price range: room rates from $33 per 제천 출장마사지 night 하남 출장마사지 (USD) - We Price Match!