BAB VII FRASA BERDASARKAN DISTRIBUSINYA: FRASA ENDOSENTRIS KOORDINATIF DAN FRASA ENDOSENTRIS APOSITIF



BAB VII
FRASA BERDASARKAN DISTRIBUSINYA:
FRASA ENDOSENTRIS KOORDINATIF
DAN FRASA ENDOSENTRIS APOSITIF

INDIKATOR
(1)     Menjelaskan pengertian frasa endosentris koordinatif
(2)     Memberikan contoh frasa endosentris koordinatif
(3)     Menjelaskan pengertian frasa endosentris apositif
(4)     Memberikan contoh frasa endosentris apositif
(5)     Menelaah frasa seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

A.    Batasan Frase
Frase adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa (Cook, 1971 : 91; Elson and Pickett, 1969 : 73) atau yang tidak melampaui batas subyek atau predikat (Ramlan, 1976 : 50); dengan kata lain : sifatnya tidak predikatif.

B.     Klasifikasi Frase
Berdasarkan  tipe strukturnya, dapatlah dibedakan menjadi :
a.       Frase endosentris; dan
b.      Frase eksosentris.


C.    Frase Endosentris
Frase endosentris adalah frase yang berhulu, yang berpusat atau headed phrase (Whitehall, 1956 : 9), yaitu frase yang mempunyai fungsi yang sama dengan hulunya.Berdasarkandistribusinya, makafraseendosentrisdibagimenjadi:
a.       FraseEndosentrisKoordinatif; dan
b.      FraseEndosentrisApositif


a.      Frasa Endosentris Koordinatif

          Frasa endosentris koordinatif merupakan frasa endosentris yang terdiri atas unsur-unsur yang setara. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur-unsur utama atau unsur inti; jadi, tidak ada unsur yang bukan inti. Kesetaraannya itu dapat dibuktikan dengan adanya kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata sambung dan atat atau. Misalnya:
(17) penelitian dan pengembangan
(18) mustofa Bisri atau Gus Mus
(19) ibu bapak
(20 )tua muda

Selanjutnya, dari contoh yangada, frasa endosentris koordinatif dapat dibedakan lagi menjadi frasa endosentris koordinatif aditif, misalnya contoh (1); frasa endosentris koordinatif alternatif/disjungtif, misalnya contoh (18), serta frasa endosentris koordinatif kontrastif, misalnya contoh (19) dan (20) (bandingkan dengan Sutantio 1998: 20-23).
Selanjutnya dalam hal ketiadaan konjungsinya, bentuk frasa endosentris koordinatif yang tidak menggunbakan konjungsi seperti contoh (19) dan (20) disebut juga frasa parataktis. Contoh lainnya ialah hilir mudik, pulang pergi, sawah ladang, dan dua, tiga hari (Chaer 2003: 228).
Dilihat dari kategorinya frasa endosentris koordinatif antara lain meliputi (1) frasa nominal seperti penelitian dan pengembangan, (2) frasa adjektival seperti tua muda, (3) frasa interogativa seperti apa dan siapa, dan (4) frasa demonstrativa seperti ini dan itu.

b.       Frasa Endosentris Apositif
          Frasa endosentris apositif merupakan frasa yang mirip dengan frasa endosentris yang koordinatif dalam hal bahwa masing-masing unsurnya dapat saling menggantikan. Hanya saja, jika dalam frasa endosentris yang koordinatif dimungkinkan adanya pemakaian konjungsi dan atau atau maka dalam frasa endonsentris yang apositif, unsur-unsur itu (1) dihubungkan dengan konjungsi yang, (2) hanya dirangkai oleh tanda koma, atau (3) dipisahkan dengan tanda pisah (--) yang diikuti ddengan ungkapan pengukuhan atau perbaikan/peralatan (Kridalaksana 1988:98). Misalnya:
          (21) Imielda yang ketua Hima Bahasa dan Sastra Indonesia
          (22) Barik, adikku
          (23) Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI
          (24) goblok –eh maaf, bodoh
          Lantas bagaimana halnya dengan kontruksi Rektor Sodijono (bukan Rektor Unnes, Prof. Dr. Sodijono Sastroatmodjo, M.Si.), Gubernur Bibit (tidak ditulis dengan Gubernur Jawa tengah, Bibit Waluyo), Presiden SBY (yang tidak ditulis dengan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono), Rasul Muhammad (yang tidak dinyatakan dengan Rasul Allah, Muhammad yang bersinonimi dengan Utusan/Pesuruh Allah, Muhammad)? Bagaimana pula dengan konstruksi Anak Zahra dalam pengertian Zahra itu sendiri, bukan anak si Zahra, saudara Qurrota dalam pengertian Qurrota sendiri, bukan saudara si Qurrota, dan Syekh Ahmad Rifa’i dalam arti Ahmad Rifa’i itu sendiri, bukan Syekh/Guru Ahmad Rifa’i?
          Secara linguistis, dalam hal ini segi sintaksis frasa, konstruksi-konstruksi tersebut berterima dan tergolong frasa endosentris apositif, yang dalam pandangan Parera (2009:39) merupakan bagian dari frasa endosentris koordinatif. Selain itu, frasa-frasa tersebut—masih menurut Parera—masuk akal juga disebut sebagai frasa endosentris atributif meskipun sulit sekali dicari unsur-unsur pusatnya.
          Konstruksi Rektor Sudijono, misalnya, dapat dipandang sebagai frasa endosentris koordinatif karena unsur yang berupa kata rektor dan Sudijono sama-sama merupakan unsur inti (UI) yang berhubungan secara koordinatif. Konstruksi tersebut dapat pula disebut sebagai frasa endosentris apositif karena kata Sudijono dapat dianggap sebagai aposisi bagi kata rektor. Selanjutnya anggapan bahwa konstruksi tersebut merupakan frasa endosentris atributif juga dibenarkan karena merupakan bentuk pendek dari Rektor Unnes, Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si., sehingga kata rektor dalam konstruksi tersebut dipandang sebagai UI dan Sudijono unsur atribut (UA)-nya.

BAB VIII
FRASA BERDASARKAN DISTRIBUSINYA:
FRASA EKSOSENTRIS DIREKTIF
DAN FRASA EKSOSENTRIS NONDIREKTIF

INDIKATOR
(1)     Menjelaskan pengertian frasa eksosentris direktif
(2)     Menyebutkan jenis frasa eksosentris direktif
(3)     Memberikan contoh frasa eksosentris direktif
(4)     Menjelaskan pengertian frasa eksosentris nondirektif
(5)     Memberikan contoh frasa eksosentris nondirektif

A.    Frase Eksosentris
Frase eksosentris adalah frase yang tidak berhulu, tidak berpusat atau non-headed(Whitehall, 1956:9) ataupun noncentered(Cook, 1971 : 90).Berdasarkan struktur internalnya, frase eksosentrik ini disebut juga relater-axis phrase atau frase relasional(Bloch, 1968 : 165).Sementaraberdasarkandistribusinya, makafraseeksosentrisdibagimenjadi:
a.       FraseEksosentrisDirektif; dan
b.      FraseEksosentrisNonDirektif.

a.      Frasa Eksosentris Direktif
          Frasa eksosentris mencakupi frasa eksosentris yang direktif dan frasa eksosentris yang direktif dan frasa eksosentris yang nondirektif (Chaer 2003: 225). Dalam bab ini hanya dibahas frasa eksosentris direktif. Frasa eksosentris direktif adalah frasa eksosentris yang unsur perangkainya berupa preposisi seperti di, dari, oleh, sebagai, dan untuk, dan unsur sumbunya berupa kata atau kelompok kata yang biasanya berkategori nomina. Contoh frasa yang dari segi kategorinya merupakan frasa preposisional (Chaer 2009: 39) jenis ini adalah konstruksi sebagai dokter dan di rumah sakit dalam dua contoh kalimat berikut ini.
          (25) a. Luluk ingin bekerja sebagai dokter.
                  b. *Luluk ingin bekerja sebagai --.
                  c. *Luluk ingin bekerja – dokter.
          (26) a. Ia bekerja di rumah sakit.
                  b. *Ia bekerja di—
                  c. *Ia bekerja – rumah sakit.
                  Contoh lainnya adalah kelompok kata oleh Ajeng dan ke sawah.
          (27) a. Roti itu dimakan oleh Ajeng
                  b. Roti itu dimakan Ajeng
                   c. *Roti dimakan ole –
          (28) Bahasa Indonesia
                  a. Ayah pergi ke sawah.
                  b. *Ayah pergi ke –
                  c. *Ayah pergi sawah.



                  Bahasa Jawa
                  d. Bapak lunga menyang sawah/Bapak tindak dateng sabin.
                  e. Bapak lunga sawah/Bapak tindak sabin.
                  f. *Bapak lunga menyang -- /Bapak tindak dateng --.

          Dari contoh-contoh tersebut dapat bdiketahui bahwa dalam bahasa Indonesia konteks verbal tertentu terdapat pengecualian berkaitan dengan penggunaan preposisi oleh, yang tidak wajib hadir dalam kalimat pasif. Hal inilah yang menyebabkan konstruksi frasa eksosentris berperangkai oleh menjadi unik. Selanjutnya, dalam bahasa Jawa dalam situasi tertentu orang bisa saja mengatakan Bapak tindak sabin dan menurut logika orang Jawa, kalimat tersebut berterima, jadi, dalam hal ini konstruksi frasa eksosentris direktif dalam bahasa Jawa sedikit berbeda dengan konstruksi frasa eksosentris direktif dalam bahasa Indonesia, terutama dalam hal distribusinya.
          Secara umum, dapat dikemukakan bahwa frasa eksosentris direktif baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Jawa 9jadi, kecuali yang perangkainya oleh atau daateng/menyang) berdisstribusi komplementer dengan unsur-unsurnya, baik dengan perangkai maupun sumbunya.

b.       Frasa Eksosentris Nondirektif
          Setelah kita mengetahui frasa eksosentris direktif dari bab sebelum ini, dalam baab ini kita akan menelaah frasa eksosentris nondirektif. Frasa eksosentris nondirektif adalah frasa eksosentris yang unsur perangkainya berupa artkula, sedangkan unsur sumbunya berupa kata atau kelompok kata yang berkategori nomina, adjektiva, atau verba. Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonsiaa edisi ketiga cetakan kelima (Alwi dkk. 2003: 304-307), disebutkan bahwa artikula adalah kata tugas yang membatasi makana nomina. Dalam bahasa Indonesia ada beberapa kelompok artikula, yaitu (1) yang bersifat gelar, seperti sang, sri, hang, dan dang (2) yang mengacu makna kelompok, seperti para, kauam, dan umat, serta (30 yang menominalkan. Artikula jenis ini dapat mengacu pada makna tunggal maupun generik, bergantung kepada konteks kalimatnya. Contoh artikula jenis ini adalah si dan yang. Jadi, kata yang bukan hanya merupakan konjungsi, melainkan juga artikula.
          Adapun contoh frasa eksosentris nondirektif adalah sebagai berikut:
          (29) a. Sang suami sudah datang.
                 b. Para tamu sudah datang.
          (30) a. Si miskin perlu diperhatikan.
                 b. Kaum marginal perlu diperhatikan.
                 c. Umat Islam cinta kebersihan.
          Jika frasa eksosentris direktif baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Jawa (jadi, kecuali yang perangkainya oleh atau dateng/menyang) pada berdistribusi komplementer dengan unsur-unsurnya, baik dengan perangkai maupun sumbunya, frasa eksosentris nondirektif ada yang berdistribusi komplementer dan ada pula yang berdistribusi paralel dengan unsur-unsurnya.




Comments

Popular posts from this blog

Sintaksis Bahasa Indonesia: pendekatan proses

Pengertian Frasa