Pengertian Frasa
1.
Pengertian Frasa
Frasa adalah satuan konstruksi
yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan (Keraf,
1984:138). Frasa juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa
gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata
yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1991:222).
Frasa juga diartikan sebagai satuan linguistik yang secara potensial merupakan
gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa (Cook, 1971:
91; Elson and Pickett, 1969: 73). Menurut Prof. M. Ramlan, frasa adalah satuan
gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas
fungsi atau jabatan (Ramlan, 2001:139). Artinya sebanyak apapun kata tersebut
asal tidak melebihi jabatannya sebagai Subjek, predikat, objek, pelengkap, atau
pun keterangan, maka masih bisa disebut frasa.
Contoh:
a. Gedung
sekolah
b. Yang
akan pergi
c. Sedang
membaca
d. Sakitnya
bukan main
e. Besok
lusa
f. Di
depan
Jika contoh itu diletakkan dalam kalimat,
kedudukannya tetap pada satu jabatan saja.
a. Gedung
sekolah itu(S) luas(P).
b. Dia(S)
yang akan pergi(P) besok(Ket).
c. Bapak(S)
sedang membaca(P) koran sore(O).
d. Pukulan
Budi(S) sakitnya bukan main(P).
e. Besok
lusa(Ket) aku(S) kembali(P).
f. Bu
guru(S) berdiri(P) di depan(Ket).
Jadi, walau terdiri dari dua
kata atau lebih tetap tidak melebihi batas fungsi. Pendapat lain mengatakan
bahwa frasa adalah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat.
Contoh:
Contoh:
a. Mereka(S)
sering terlambat(P)
b. Mereka(S)
terlambat(P).
Ket: ( _ ) frasa.
Pada kalimat pertama kata
‘mereka’ yang terdiri dari satu kata adalah frasa. Sedangkan pada kata
berikutnya hanya kata ‘sering’ yang termasuk frasa karena pada jabatan itu
terdiri dari suatu kata dan kata ‘sering’ sebagai pemadunya. Pada kalimat kedua,
kata ‘mereka’ dan ‘terlambat’ adalah frasa karena hanya terdiri dari satu kata
pada tiap jabatannya. Dari kedua pendapat tersebut bisa diambil kesimpulan
bahwa frasa bisa terdiri dari satu kata atau lebih selama itu tidak melampaui
batas fungsi atau jabatannya yang berupa subjek, predikat, objek, pelengkap,
atau pun keterangan. Jumlah frasa yang terdapat dalam sebuah kalimat bergantung
pada jumlah fungsi yang terdapat pada kalimat itu juga.
2.
Jenis Frasa
Jenis frasa dibagi menjadi
dua, yaitu berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya) dan
berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya.
Berdasarkan Persamaan Distribusi dengan Unsurnya atau
tipe bentuknya, frasa dibagi menjadi dua, yaitu : Frasa Endosentris dan Frasa Eksosentris.
1. Frasa
Endosentris,
kedudukan frasa ini dalam
fungsi tertentu, dapat digantikan oleh unsurnya. Atau frasa endosentrik dapat
diartikan frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya.
Unsur-unsur tersebut berkedudukan setara dan maknanya mengacu pada referensi
yang sama (Ramlan, 1987:155). Unsur frasa yang dapat menggantikan frasa itu
dalam fungsi tertentu yang disebut unsur pusat (UP). Dengan kata lain, frasa
endosentris adalah frasa yang memiliki unsur pusat. Contoh: Sejumlah
mahasiswa(S) diteras(P).
Kalimat tersebut tidak bisa jika hanya ‘Sejumlah
di teras’ (salah) karena kata mahasiswa adalah unsur pusat dari subjek. Jadi,
‘Sejumlah mahasiswa’ adalah frasa endosentris.
Frasa endosentris sendiri masih dibagi menjadi
tiga.
a) Frasa
Endosentris Koordinatif, yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah
unsur pusat dan mengacu pada hal yang berbeda diantara unsurnya terdapat (dapat
diberi) ‘dan’ atau ‘atau’. Contoh:
1) rumah
pekarangan
2) suami
istri dua tiga (hari)
3) ayah
ibu (4) pembinaan dan pembangunan
b) Frasa
Endosentris Atributif, yaitu frasa endosentris yang disamping mempunyai unsur
pusat juga mempunyai unsur yang termasuk atribut. Atribut adalah bagian frasa
yang bukan unsur pusat, tapi menerangkan unsur pusat untuk membentuk frasa yang
bersangkutan.
Contoh:
Contoh:
1) pembangunan
lima tahun
2) sekolah
Inpres
3) buku
baru
Kata-kata yang dicetak miring dalam frasa-frasa
di atas seperti adalah unsur pusat, sedangkan kata-kata yang tidak dicetak
miring adalah atributnya.
c) Frasa
Endosentris Apositif
frasa endosentris yang semua
unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang sama. Unsur pusat yang
satu sebagai aposisi bagi unsur pusat yang lain. Untuk itu, unsur-unsur
pembentuknya secara otomatis mempunyai hubungan antarsuku, baik dalam hubungan
posisi maupun hubungan makna. (Yuniawan, 2000) Contoh:
·
Ahmad, anak Pak Sastro, sedang belajar
·
Ahmad, …….sedang belajar
·
……….anak Pak Sastro sedang belajar.
Unsur ‘Ahmad’ merupakan unsur pusat, sedangkan
unsur ‘anak Pak Sastro’ merupakan aposisi.
Contoh lain:
1. Yogya,
kota pelajar
2. Indonesia,
tanah airku
3. Bapak
SBY, Presiden RI
Frasa yang hanya terdiri atas satu
kata tidak dapat dimasukkan ke dalalm frasa endosentris koordinatif, atributif,
dan apositif, karena dasar pemilahan ketiganya adalah hubungan gramatik antara
unsur yang satu dengan unsur yang lain. Jika diberi aposisi, menjadi frasa
endosentris apositif. Jika diberi atribut, menjadi frasa endosentris atributif.
Jika diberi unsur frasa yang kedudukannya sama, menjadi frasa endosentris
koordinatif
2.
Frasa Eksosentris
Frasa Eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan
distribusi dengan unsurnya. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frasa
eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai UP.
Contoh: Sejumlah mahasiswa di teras.
a. Berdasarkan
Kategori Kata yang Menjadi Unsur Pusatnya frasa dibagi menjadi enam.
1) Frasa
nomina, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori nomina.
UP frasa nomina itu berupa: a)
nomina sebenarnya contoh: pasir ini digunakan utnuk mengaspal jalan b)
pronomina contoh: dia itu musuh saya c) nama contoh: Dian itu manis
d) kata-kata selain nomina, tetapi strukturnya berubah menjadi nomina contoh: dia rajin → rajin itu menguntungkan anaknya dua ekor → dua itu sedikit dia berlari → berlari itu menyehatkan kata rajin pada kaliat pertam awalnya adalah frasa ajektiva, begitupula dengan dua ekor awalnya frasa numeralia, dan kata berlari yang awalnya adalah frasa verba.
d) kata-kata selain nomina, tetapi strukturnya berubah menjadi nomina contoh: dia rajin → rajin itu menguntungkan anaknya dua ekor → dua itu sedikit dia berlari → berlari itu menyehatkan kata rajin pada kaliat pertam awalnya adalah frasa ajektiva, begitupula dengan dua ekor awalnya frasa numeralia, dan kata berlari yang awalnya adalah frasa verba.
2) Frasa
Verba
frasa yang UP-nya berupa kata
yang termasuk kategori verba. Secara morfologis, UP frasa verba biasanya
ditandai adanya afiks verba. Secara sintaktis, frasa verba terdapat (dapat
diberi) kata ‘sedang’ untuk verba aktif, dan kata ‘sudah’ untuk verba keadaan.
Frasa verba tidak dapat diberi
kata’ sangat’, dan biasanya menduduki fungsi predikat. Contoh: Dia berlari. Secara
morfologis, kata berlari terdapat afiks ber-, dan secara sintaktis dapat diberi
kata ‘sedang’ yang menunjukkan verba aktif.
3) Frasa
Ajektifa
frasa yang UP-nya berupa kata
yang termasuk kategori ajektifa. UP-nya dapat diberi afiks ter- (paling),
sangat, paling agak, alangkah-nya, se-nya. Frasa ajektiva biasanya menduduki
fungsi predikat. Contoh: Rumahnya besar. Ada pertindian kelas antara verba dan
ajektifa untuk beberapa kata tertentu yang mempunyai ciri verba sekaligus
memiliki ciri ajektifa. Jika hal ini yang terjadi, maka yang digunakan sebagai
dasar pengelolaan adalah ciri dominan.
Contoh:
menakutkan (memiliki afiks verba, tidak bisa diberi kata ‘sedang’ atau ‘sudah’. Tetapi bisa diberi kata ‘sangat’).
Contoh:
menakutkan (memiliki afiks verba, tidak bisa diberi kata ‘sedang’ atau ‘sudah’. Tetapi bisa diberi kata ‘sangat’).
4) Frasa
Numeralia
frasa yang UP-nya berupa kata
yang termasuk kategori numeralia. Yaitu kata-kata yang secara semantis
mengatakan bilangan atau jumlah tertentu. Dalam frasa numeralia terdapat (dapat
diberi) kata bantu bilangan: ekor, buah, dan lain-lain.
Contoh ;
·
dua buah
·
tiga ekor
·
lima biji
·
duapuluh lima orang.
5) Frasa
Preposisi
frasa yang ditandai adanya preposisi
atau kata depan sebagai penanda dan diikuti kata atau kelompok kata (bukan
klausa) sebagai petanda.
Contoh:
Penanda (preposisi) + Petanda
(kata atau kelompok kata) di teras
·
ke rumah teman
·
dari sekolah
·
untuk saya
6)
Frasa Konjungsi
frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata
sambung sebagai penanda dan diikuti klausa sebagai petanda. Karena penanda
klausa adalah predikat, maka petanda dalam frasa konjungsi selalu mempunyai predikat.
Contoh: Penanda (konjungsi) + Petanda (klausa, mempunyai P) Sejak kemarin dia terus diam(P) di situ.
Dalam buku Ilmu Bahasa Insonesia, Sintaksis, Ramlan
menyebut frasa tersebut sebagai frasa keterangan, karena keterangan menggunakan
kata yang termasuk dalam kategori konjungsi.
KESIMPULAN
Frasa adalah satuan linguistik
yang ssecara potensial merupakan gabungan dua kata atau lbih, yang tidak
mempunyai ciri-ciri klausa yang tidak melampaui batas subyak atau prediket.
Jenis frasa dibagi menjadi
dua, yaitu berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya) dan
berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya. Berdasarkan persamaan
distribusi dengan unsurnya (pemadunya) yaitu frasa endosentris dan frasa
eksosentris. Berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya yaitu frasa
nomina, frasa verba, frasa ajektiva, frasa numeralia, frasa preposisi dan frasa
konjungsi.
Comments
Post a Comment