Sintaksis Bahasa Indonesia: pendekatan proses
SINTAKSIS
Dosen
Pengampu : Rustam S.Pd, M.Hum
Penyusun :
-
Siti Mawan Sari
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jambi
2016/2017
Judul :
Sintaksis Bahasa Indonesia: pendekatan proses
Pengarang :
Abdul Chaer
Penerbit :PT.
Rineka Cipta
Tahun Terbit :
2009
1.2.4 Tata Bahasa Kasus
Tata
bahasa kasus versi Fillmore (1968) dalam menganalisis kalimat membagi struktur
kalimat atas dua komponen yaitu : (1) modalitas, dan (2) proposisi. Komponen
modalitas dapat berupa unsur negasi,
kala, aspek, dan adverbia.
Sedangkan komponen proposisi terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah
kasus. Simak bagan berikut :
Kalimat
Modalitas Proposisi
negasi
kala verba
kasus 1 kasus
2 kasus 3
aspek
adverbia
Yang
dimaksud dengan kasus adalah hubungan antara verba dengan nomina. Verba disini
sama dengan predikat. Umpamanya, dalam kalimat (17) berikut :
17) Nenek tidak membaca komik kemarin
Analisisnya adalah :
Kalimat
Modalitas Proposisi
negasi verba kasus 1 kasus 2 kasus
3
tidak nenekbacakomikkemarin
Analisis semantiknya : nenek berkasus agen atau pelaku, komik berkasus objek atau sasaran, dan kemarin berkasus berkasus temporal atau waktu.
Analisis kalimat dalam tata bahasa kasus tidak jauh
berbeda dengan analisis semantik yang dilakukan dalam linguistik generatif
semantik. Bedanya dalam analisis generatif semantik istilah yang digunakan
untuk kasus adalah argumen, dan untuk
kalimat digunakan istilah proposisi. Bagannya
:
Preposisi
Predikat argumen 1 argumen 2
Atau dapat dirumuskan
menjadi:
Predikat (Arg 1, arg 2,
.........., Argn). Umpamanya kalimat (18) berikut :
18)
Nenek minum kopi
Mempunyai struktur
Preposisi
Predikat arg 1
arg 2
Minum
nenek
kopi
Atau
dirumuskan menjadi: MINUM (nenek, kopi). Jadi, proposisi kalimat itu mempunyai
predikat yang berargumen dua.
Menurut
teori ini, predikat adalah semua yang
menunjukkan hubungan, perbuatan, sifat, keanggotaan, dan sebagainya ; sedangkan
argumen adalah segala sesuatu yang dibicarakan. Dalam menganalisis kalimat
kompleks teori ini berpegang pada salah satu struktur logika. Umpamanya kalimat
(19) berikut :
19) Jarang ada mobil murah
Analisisnya tampak
dalam bagan berikut :
Prop
Pred Prop
1
Pred 1 Prop
2
Pred
2 Prop
3
jarang ada murah mobil
Judul : SINTAKSIS
Pengarang :
Jos Daniel Parera
Penerbit : PT. GRAMEDIA
Tahun Terbit :
1988
TAT
A BAHASA KASUS I
14.1 pedahuluan
Tata bahasa kasus (TBK) merupakan TBK seperti
diperkenalkan padamulanya oleh Charles J.Fillomore dalam “The Case For Case”
(1968) . kami merasa perlu
memperkenalkan TBK (1968) karena pembicaraan kami tentang TBK dalam
perkembangannya sekarang ini selalu mengambil TBK sebagai bahan bandingan.
Nama
kasus dalam TBK ini perlu pula dibedakan dari kasus dalam bahasa tradisional,
pengertian kasus dalam tata bahasa tradisional berhubungan dengan perubahan
morfemis sebuah momen untuk menyatakan fungsinya dalam sintaksis oleh karena
itu tata bahasa tradisional bersifat morfologi sintaksis dengan pembedaan
nomintif,genetif, aakusatif, datif, ablatif, vokatif, lokatif, dan
instrumentalis. Lain halnya dengan kasus dalam TBK seperti yang dikemukakan
oleh Fillmore (1968) . kasus dalam TBK menunjukkan hubungan semantik-sintaksis
antara momen dan verbum dalam sebuah kalimat. Oleh karena itu kita kelak
memberikan defenisi kasus sebagai
“hubungan semantis antara momen dan verbum sebagai suatu himpunan atau
proposisi”.
Tata
bahasa kasus (TBK) merupakan satu usaha mencari
ciri universal semantik dalam analisi sintaksis. Komponen semantik dalam tata bahsa generatif (TG) belum dapat
dituntaskan. Fillmore pada mulanya masih melihat TBK ini dari segi sintaksis
dan bukan darai segi semantik.
14.2 Modalitas dan Proposisi
Fillmore dan TBK I membedakan dua himpunan dalam kalimat.
Himpunan pertama disebut modalitas . modalitas merupakan satu himpunan dalam
kalimat yang bercirikan nagasi, waktu,modus,dan aspek. Himpunan ini tidak
diperhitungkan dalam TBK I. Himpuna yang kedua disebut proposisi. Proposisi
merupakan himpunan yang terdiri dari verbun dan sejumlah nomen yang berhubungan
dengan verbum secara semnatis kasus.
14.3 Kaidah Tat Bahasa Kasus
Dengan postulat
modalitas dan proposisi diatas, maka Fillmore menurunkan kaidah-kaidah tata
bahasa kasus sebagai berikut:
S → M + P
( Kaidah ini mengantakan bahwa sebuah kalimat
terdiri dari modalitas dan proposisi)
P →
V + K1 + K2 + K3 .....+ Kn
(Sebuah proposisi merupakan himpuanan yang terdiri
dari verbum dan sejumlah nomen: hubungan anatara nomen dan verbum disebut, K)
Kaidah 3
K →
A, I, D, F, L, dan O
(Kasus itu berupa agentif, A; datif,D; faktif,F; lokatif,L;
dan objekif,O)
Pengertian-pengertian kasus adalah sebagai berikuat:
(1) Agentif adalah relasis kasus persona yang melakuakan
prakarsa/inisiatif atau pelaku perbuatan seperti yang dicirikan oleh makna verbum; agentif
biasanya berciri nomen hidup bernyawa.
(2) Instrumen
adalah relasi kasus yang menyatakan hubungan,doongan,kekuatan, dan penyebab
perbuatan seperti dinyatakan oleh makna verbum.
(3) Datif adalah relasi kasus yang menyatakan nomen
dikenai perbuatan atau keadaan seprti dicirikan oleh makna verbum.
(4) Faktitif alah
relasi kasus yang menyatakan hasil perbuatan atau keadaan seperti dicirikan
oleh makna verbum. Ia dapat dianggap pula sebagai bagian dari pengertian yang
terkandung dalam verbum.
(5) Lokatif adalah relasi kasus yang menyatakan tempat
atau dimensi ruang untuk perbuatan atau keadaan yang dinyatakan dalam makna
verbum.
(6) Objektif adalah
relasi kasus yang secara semantis nentral. Objektif adalah relasi kasus semua
nomen dengan verbum yang dapat diinterprestasikan secara semantik berdasarkan
makna verbum. Perlu diingatkan bahwa kasus objektif ini tidak boleh dikacaukan
dengan objek penderita atau akusatif.
Sebagai contoh kami turunkan kalimat-kalimat dalam
bahasa indonesia dan bahasa inggris.
1. Petrus
membuka pintu
(Kalimat
ini berlabel kasus A, O ; kita menuliskan membuka (̲ A,O/.
2. Batu
itu menghancurkan kaca.
(Kalimat
ini berlabel kasus I, O ; kita tulis mengahancurkan / ̲ I,O/.
3. Petrus
menghancurkan kaca itu dengan batu
(verbum
menghancurkan dalam kalimat itu
berlalbel / ̲ A, O,I/
4. Petrus
yakin bahwa jakarta berangin.
(
verbum yakin dalam kalimat itu berlabel kasus / ̲ D/ dan verbum berangin
berlabel kasus / ̲ L/.)
5. Petrus
menggali lubang
(verbum
menggali dalam kalimat itu berlabel kasus / ̲ A,F/.
Contoh dalam bahasa Inggris :
1. The
janitor opened the door.
2. The
key opened the door
3. The
janitor opened the door with the key
4. The
door opened.
5. The
dog was killed with knife by the man.
Dalam kalimat 1,2,3,dan 4 verbum opened dapat
berlabel kasus / ̲ A,O,I/, sedangkan verbum was killed pun berlabel kasus / ̲
A,O, I /.
Kaidah 4
K C→ N + K, K
+ N
Fillmore
berpendapat bahwa dalam struktur dalam setiap kasus mempunyai satu ciri
pegantar kasus. Ciri pengantar kasus itu di notasikan dengan k (kecil). Notasi
k ini dapat kita samakan dengan partikel. Nah, k ini dapat muncul di struktur
luar dan dapat pula tidak muncul. Dalam contoh di atas kasus agentif dalam
munculnya tanpa k dalam kalimat (1) bahasa indonesia dan inggris. Akan tetapi
kasus agentif pun dapat di cirikan dengan ciri k”oleh”bahasa indonesia dalam
kalimat (2) dan by dalam kalimat bahasa inggris (5).
Kita
sering menjumpai kalimat bahasa indonesia seperti Dalam darahnya mengandung
benih penyakit. Tampaklah dalam kalimat ini bahwa penutur bersenantik lokatif
untuk nomen darahnya. Verbum mengandung dalam kalimat tersebut berlabel
kasus/L, O/.
Kaidah 5 : N→ N + d, d + N (K); N + n (posesif)
(Kaidah
ini menunjukkan bahwa N itu dapat terdiri frase nomen, klausa nonfinit
pengganti agentif dan hubungan posesif.
14.4 Problem Bahasa dan Uji Tata Bahasa Kasus
Ada
data bahasa yang harus dianalisi untuk diketemukan struktur dan dijelaskan
maknanya. Sebuah data bahasa dapat diuji kesahihannya dengan pendekatan
tradisional atau tehnik ICs dalam pendekatan struktural atau dengan tehnik
informasi lewat SD-Transformasi dan – SL. Akan tetapi, data bahasa itu pun
dapat dijelaskan lewat uji TBK.
14.5
Leksikon Verbum
Kita
telah menerima bahwa dalam TBK 1 Verbum merupakan sentral dalam kalimat. Dengan
demikian, kita perlu membuat satu daftar leksikon verbum dengan segala cirinya.
Sebuah verbum dapat dicirikan berdasarkan hubungan kasus yang wajib dan yang
tidak wajib. Verbum mungkin perlu dikelompokkan berdasarkan berdasarkan label
atau bingakai kasus. Verbum berjalan berbingkai kasus / ̲ A/. Verbum membuka
berbingkai kasus / ̲ A , O/, verbum memberi berbingkai kasus / ̲ A,D, O, /.
Disamping
pelabelan verbum dan usaha pengelompokkan verbum berdasarkan label kasus ,
lewat TBK ini kita dapat menerapkan kaidah seleksi untuk verbum-verbum yang
secara semantis identik karena verbum-verbum ini berlabel kasus yang sama.
Misalnya verbem senang akan da menarik dalam bahasa Indonesia mempunyai label
kasus yang sama yakni / ̲ D, O /. Akan tetapi perelesasiannya didasarkan pada
kaidah seleksi.
Jika
kita mempergunakan TBK 1 yang mulai menunjukkan kecenderungannya memasukkan
kaidah makna atau makana pada umumnya dalam analisi sintaksis maka ada
sekelompok verbum indonesia dapat dimasukkan dalam satu kelompok label kasus /
̲ A,F/ dengan label kasus / ̲ F/.Misalnya kalimat ibu memasak nasi dalam
analisi tradisional nasi dikatakan
berfungsi objek. Analisis ini tidak sesuai dengan kaidah makna verbum memasak
yang memilih kasus / ̲ F/ atau faktitif.
Dengan
pelabelan kasus, kita pun dapat lebih cermat membedakan verbum yang secara umum
dikatakan sinonim. Misalnya verbum memandang dan melihat. Verbum memandang
berbingkai kasus / ̲ A,O/ sedangkan verbum melihat berbingkai kasus / ̲ D, O/.
14.6 Diagram Pohon TBK
Sebagai
ilustrasi penjelas kami turunkan diagram sebuah TBK agar tampak tatarannya.
K
P
M
Argumen
nagasi V
modus
waktu A D I L F O
aspek
(1) kasus
(2) sintaksis GV GN GN
GN GN GN
GN
(3) morfologi MeN-
(4) leksikon meN-bukkan petrus pintu
TATA BAHASA KASUS II
(Model1970-1980)
15.1
Tata Bahasa Kasus Model 1970 (TBK II)
Jika dalam TBK I model 1968 kalimat terdiri atas modalitas dan
proposisi, maka dalam tahun 1970 ini modalitas dan pemarkah kasus ditiadakan.
Dengan demikian, sebuah kalimat hanya
terdiri dari verbum dan sederetan nomen atau simbol kasus. Fillmore pun
sudah mulai cenderung untuk mementingkan komponen semantik dalam TBK sehingga
arah pengembangan TBK bermula dari pemahaman akan komponen semantik lalu
mencari komponen sintaksis. Jadi, runtunan analisis adalah semantik – sintaksis
– fonetik.
Dalam tahun 1970-1971 Fillmore pun telah
mengganti kasus datif dan faktitif denga kasus experiencer ‘pengalami’ dan kasus tujuan. Fillmore mendaftarkan
delapan kasus, yakni: agentif, pengalami, instrumen, objektif, sumber/asal,
tujuan, waktu, dan kemudian ditambahkan dengan benefaktif.
Pada umumnya kita dapatklan
kasus-kasus itu sebagai berikut:
(1)
Agentif: kasus
yang menyatakan pelaku atau pemrakarsa dari satu perbuatan atau pekerjaan.
Misalnya:
Petrus
membuka pintu. (bahasa Indonesia = B Ind.)
Hans
liest das Buch. (bahasa Jerman = BJ)
(2)
Pengalami: kasus
ini dituntu oleh satu verbum “mengalami”; kasus ini meyatakan orang mengalami
dan kena satu peristiwa psikologis, sensasi, emosi, dan kognitif. Misaknya:
Paulus
sakit. (B Ind.)
Er
friert in dem ungeheizten Zimmer. (BJ)
(3)
Instrumen: kasus
menyatakan dorongan, penyebab, alat terjadinya sesuatu. Misalnya:
Ladameo memotong roti dengan pisau (B Ind.)
Der Elektroofen
heizt das Zimmer. (BJ)
(4)
Benefaktif:
kasus yang menyatakan nomen memperoleh, memiliki, dan atau kehilangan sesuatu;
kasus ini kami sebut pula pemeroleh.
Misalnya:
Petani
mendapat hadiah sapi. (B Ind)
Er
hat ein Buch. (BJ)
(5)
Objektif: kasus
yang menyatakan nomen ini statis atau berkendaraan seperti yang dinyatakan oleh
makna verbum; kasus ini paling netral. Misalnya:
Batu
itu keras; padi menguning. (B Ind)
Er hiezt das Zimmer. (BJ)
(6)
Lokatif: kasus
yang menunjukkan tempat dari seuatu nomen atau perubahantempat dari nomen.
Misalnya:
Pemuda itu bersandar
pada pohon. (B Ind)
Er geht in die Kuche. (BJ)
In der Kunche
kocht er Tee. (BJ)
(7)
Sumber: kasus
ini menyatakan asal atautitik permulaan/awal. Misalnya:
Kain ini terbuat dari sutera. (B Ind)
Er erhalt von Brieftrager seine Post. (BJ)
(8)
Hasil (result;
faktitif): menanyakan hasil atau akibat dari satu perbuatan. Misalnya:
Ibu menanak nasi. (B Ind)
Helga schneidet ein Loch in das Muster. (BJ)
(9)
Waktu: kasus ini
menyatakan orientasi waktu. Misalnya:
Ia selalu bangun pagi. (B Ind)
Um
16 Uhr trifft er seine Freundin
Helga. (BJ)
(10) Komitatif: kasus yang menyatakan peran kesertaan;
kami sebut kasus peserta. Misalnya:
Anak
ini pergi dengan ibunya ke pasar. (B
Ind)
Er
geht mit seiner Freundin Helga. (BJ)
Pengantar singkat di atas menunjukkan bahwa
pendekatan TBK telah mendapatkan perhatian ahli bahasa yang cenderung mencari
kesemestaan bahasa. Dalam uraian lanjutan tampaklah bahwa TBK bukan lagi milik
Fillmore semata. Muncullah banyak versi TBK.
15.2 Kaus Proposional dan Kasus Modal
Dalam
TBK II dibedakan pula kasus atas (1) kasus proposional dan (2) kasus modal.
Kasus proposional merupakan kasus-kasus wajib sesuai dengan ciri semantis
verbum yang dikemukakan oleh Chafe. Secara hirarkis kasus proposional disusun
sebagai berikut: agentif, pengalami, benefaktif/pemeroleh, objektif, dan
lokatif. Kasus-kasus yang lain termasuk dalam kelompok kasus modal, misalnya,
tujuan ,hasil, sumber, waktu,. Nomen berperan sebagai kasus kita katakan “calon
kasus” karena satu nomen dapat berperan sebagai agentif, pengalami, benefaktif
berdasarkan tuntutan semantis verbum. Kasus proposisional harus muncul dalam
bingkai kasus verbum.
Kasus-kasus
modal tidak muncul dalam bingkai kasus. Kasus modal tidak berhubungan dengan
proposisi (verbum + kasus + kasus), tetapi kasus tidak berhubungan dengan
modalitas seluruh kalimat. Kasus modal juga disebut kasus adverbial dan
bersifat mana suka terhadap kalimat. Kasus modal yang utama ialah: tempat,
waktu, cara, sebab, tujuan, peserta. Jadi, dapat dikatakan bahwa kasus
proposionalmenyatakan hubungan nomen-nomen sedangkan modal menyatakan hubungan
adverbial-verbum.
Dalam
hubungan ini perlu dibedakan pula dua macam kasus lokatif. Fillmore membedakan
kasus lokatif “dalam” dan lokatif “luar”. Kasus lokatif “dalam” merupakan kasus
lokatif yang wajib berhubungan dengan verbum, misalnya, bahasa Inggris he is here. Here disini adalah bagian langsung dari verbum to be. Di sini dikatakan bahwa here
adalah lokatif dalam. Itu sebabnya kasus lokatif
dimasukkan dalam kasus proposisional.
15.3 Klasifikasi Verbum Wallace Chafe
Walaupun
Chafe sendiri tidak berbicara tentang bingkai kasus, namun persesuaian ide
antara Fillmore dan Chafe tampak dengan jelas. Fillmore dan Chafe berpedoman
pada analisis bahasa yang bermula dari semantik.
Chafe
membedakan tipe nomen dalam kalimat atas: nomen agentif, pengalami, benefaktif,
pasiens, komplemen, lokatif, dan nomen instrumen. Semua nomen ini akan
berhubungan dengan verbum dalam kalimat. Oleh karena itu, Chafe pun
menggolongkan verbum secara semantis atas (1) verbum keadaan dan (2) verbum
tankeadaan. Verbum tankeadaan dibedakan lagi atas verbum proses, verbum aksi,
dan verbum aksi proses. Jadi, Chafe membedakan empat kategori semantis verbum,
yakni (1) verbum keadaan, (2) verbum proses, (3) verbum aksi, dan (4) verbum
aksi proses. Chafe memberikan contoh kategori verbum dalam tipe dasar sebagai
berikut. Tentu saja untuk model bahasa Inggris.
A.1
verbum keadaan: (adj) dry, dead, tight,
broken
A.2
verbum proses: (iv) break, die, dry,
tighten
A.3
verbum aksi: (iv) laugh, sing, pounce,
run
A.4
verbum aksi proses: (iv) break, dry,
kill, tighten
(Walter
A. Cook, 1979; 53-54)
Kami
dapat menurunkan pula contoh berdasarkan kategori semantis Chafe untuk bahasa
Indonesia.
A.1
verbum keadaan: putih, cerah, kekar (adj)
A.2
verbum proses: layu, tumbuh, pecah
A.3
verbum aksi: minum, cari, buka
A.4
verbum aksi proses: (morfemis) mengeringkan, menelantarkan
15.4 Pemaduan Kategori Semantis Verbum dan Kasus
Tipe-tipe
verbum seperti yang dikemukakan oleh Chafe membutuhkan kasus agentif atau kasus
objektif, atau agentif dan objektif. Verbum keadaan dan proses membutuhkan
kasus objektif sedangkan verbum aksi membutuhkan agentif. Dan verbum
aksi-proses membutuhkan kasus agentif dan objektif. Akan tetapi kita pun tahu
bahwa ada lima kasus proposional. Kelima kasus proposional adalah: agentif,
objektif, pengalami, benefaktif/pemeroleh, dan kasus lokatif.
Sekarang
kita ingin memadukan dan menghubungkan tipe-tipe verbum dan kasus proposional.
Kita akan memperoleh satu matriks bingkai kasus seperti di bawah ini.
Matriks Bingkai Kasus
===============================================================
A
B C D
Verbum dasar Pengalami
Benefaktif Lokatif
Keadaan keadaan keadaan keadaan
+[Os] +[E,Os] +[B,Os] +[Os,L]
Proses proses proses proses
+[O] +E,O] +[B,O] +[O,L]
Aksi aksi aksi aksi
+[A] +[A,E] +[A,B] +[A,L]
Aksi proses aksi proses aksi proses aksi proses
+[A,O] +[A,E,O] +[A,B,O] +[A,O,L]
Di
bawah ini kami coba mengisi sel-sel itu dengan beberapa verbum bahasa Indonesia
hasil pengamatan kami.
Matriks
Contoh Verbum Bahasa Indonesia
================================================================
AA B C D
Dasar Pengalami/E Benefaktif Lokatif
Os E,Os B,O O,L
putih tahu punya ada
cerah bosan kehilangan hadir
kekar
ingin bersahabat condong
O EO BO OL
layu bimbang senang timbul
tumbuh cemas dapat datang
pecah dengar mencapai tiba
A AE AB AL
minum menjawab membantu perfi
cari bilang memberi turun
buka - - naik
AO AEO ABO AOL
*mengeringkan menceritakan membelikan menggeserkan
*menelantarkan membisikkan memberi mendorong
15.5 Kasus
sebagai Struktur-Dalam
Pengertian
kasus sebagai penyata hubungan antara nomen dan verbum secara semantis memperlihatkan
kepada kita bahwa hubungan itu terjadi dalam struktur-dalam (SD). Dalam
analisis TBK hubungan itu diutamakan sedangkan runtunannya tidak penting. Akan
tetapi, dalam kenyataannya ada tata runtun yang tetap dan secara hirarkis
antara kasus-kasus itu. Ini berarti kita memerlukan satu penggambaran tentang
struktur.
Misalnya
kita mempunyai satu verbum runtunan kasus dalam struktur-dalam seperti V + A,
I, O atau V + I, O, L. Kita beri isi kepada kasus memukul, anjing, Mateos, tongkat. Bagaimana runtunan itu terjadi
dalam struktur-luar? Struktur mempunyai tata alur tertentu untuk menghubungkan
kasus-kasus semantis itu. Hal ini dapat kita gambarkan seperti di bawah ini.
SD: Verbum transitif, objek, instrumen
vokabulari: memukul, anjing, Mateos,
tongkat
SL: S == Gnag. + Vtr. + Gno. k (dengan) +
Gnins
Mateos memukul anjing dengan tongkat
Dlam
bahasa Inggris dapat diberikan contoh seperti di bawah ini:
SD:
VTv A O I
broke John the window + k (with) a hammer
SL: S
== John broke the window with a hammer
Dengan
demikian, perlu dicarikan satu analisis struktur yang dapat menggambarkan struktur-luar dari hubungan
kasus di struktur-dalam. Jawabannya ialah teknik analisis tagmemik. Itu
sebabnya dikatakan oleh Walter A. Cook (1979: 28) “Case Grammar as Deep
Structure in Tagmemic Analysis”.
15.6 Hubungan antara Kasus dan Analisi Subjek-Objek
Dalam
hubungan dengan pembicaraan tentang TBK, perlu kami singgung masalah subjek
yang sudah lama dikenal dalam analisis bahasa walaupun sering tidak tepat
diterapkan oleh para ahli bahasa. Dikatakan bahwa penentuan subjek diperlukan
oleh seorang linguis jika ia menemui satu pilihan tentang subjek. Peristiwa ini
terjadi hanya pada bahasa yang membedakan bentuk aktif dan pasif. Bahasa
Inggris mengenal bentuk aktif dan pasif. Oleh karena itu, dalam analisis bahas
Inggris dibutuhkan konsep subjek pada taraf pertama.
Masalah
yang muncul dalam pilihan subjek ialah jika dalam kalimat itu terdapat beberapa
kasus proposional? Misalnya, kita harus memilih di antara kasus /A, I, O/. Mana
di antara ketiga kasus itu dicalonkan sebagai subjek? Dalam sebuah kalimat
aktif-dan ini kitaterima sebagai kalimat yang normal-maka calon subjek adalah
/A/.
Fillmore
mempunyai hipotesis secara hierarkis untuk calon subjek. Dalam kalimat yang
normal subjek selalu terletak di depan verbum yang predikatif. Jika kita
mempunyai runtunan kasus /A, I, O/, maka calon subjek dihipotesiskan sebagai
berikut:
(1)
Jika ada kasus
/I, O/ tanpa ada /A/, maka calon subjek adalah kasus /A/. Misalnya:
Mateos
membuka pintu dengan kunci.
(2)
Jika ada kasu
/I, O/ tanpa ada /A/, maka calon subjek adalah /I/. Misalnya:
Kunci
itu membuka pintu.
(3)
Jika hanya da
kasus /O/, maka calon subjek adlah /O/. Misalnya:
Pintu
itu buka/membuka.
Dalam
runtunan kasus /A, B, O/, maka hipotesis calon subjek adalah sebagai berikut:
(1)
Jika ketiga
kasus itu ada, maka /A/ menjadi calon subjek. Misalnya:
Ayah membelikan adik
boneka. /A, B, O/
(2)
Jika hanya ada
kasus /B, O/ dalam kalimat pasif, maka /B/ menjadi calon subjek. Misalnya:
Adik dibelikan boneka.
/B/ = subjek.
(3)
Jika hanya ada
kasus /O/, maka kasus /O/ itu menjadi calon subjek. Miaslnya:
Boneka dibeli. /O/ =
subjek
Dalam
runtutan kasus /A, L, O/, maka hipotesis calon subjek adalah sebagai berikut:
(1)
Jika ketiga
kasus itu, maka /A/ adalah calon subjek. Misalnya:
Ia
mengandung benih penyakit dalam darahnya.
(2)
Jika hanya ada
/L, O/, maka /L/ adalah calon subjek. Misalnya:
Darahnya
mengandung benih penyakit. /L/ = Subjek
(3)
Jika hanya ada
/O/, maka /O/lah calon subjek. Misalnya:
Benih
penyakit ada. /O/ = Subjek
Dengan
contoh di atas dibuktikan bahwa ada satu tata hirarki pilihan untuk calon
subjek. Kami tidak berpretensi bahwa inilah satu-satunya analisis eklektik yang
memadai. Hipotesis di atas masih harus diuji terus-menerus.
15.7 Inkorporasi Kasus ke Verbum
Sebagai
pengakhir pembicaraan tentang TBK II ini, akan kami singgung soal inkorporasi
ini dapat dibicarakan dalam tataran morfologi. Akan tetapi, karena pertimbangan
akan kebaruan analisis TBK, maka peristiwa inkorporasi ini kami turunkan
disini.
Inkorporasi
merupakan pengintegrasian kasus ke dalam sebuah verbum atau pengverbuman sebuah
kasus secara morfologis tanpa membawa perbedaan semantis. Tau dengan kata lain
sebuah verbum yang diturunkan dari sebuah kasus secara morfologis. Misalnya
“Empat perampok yang memakai tutup kepala bersenjatakan
golok”.
Tentu
saja, pertama harus ditemukan proses
morfemis inkorporasi, seperti, afiks ikorporasi. Kedua, harus ditemukan dan dikaidahkan kasus yang dapat
diinkorporasikan atau berinkorporasi.
Di
bawah ini kami berikan beberapa contoh verbum inkorporasi baik unsur morfemis
maupun kasus yang berinkorporasi.
(1)
Inkorporasi yang
ditandai dengan meN-
(i)
Inkorporasi
instrumen
memberi selimut menyelimuti
menuju ke darat mendarat
(2)
Inkorporasi yang
ditandai dengan meN-kan
(ii)
Inkirporasi
instrumen
memakai sepeda bersepeda
menjadi bukti membuktikan
mengajukan usul mengusulkan
(3)
Inkorporasi yang
ditandai dengan meN-i
(i)
Inkorporasi
objektif
memberi restu merestui
merebut juara menjuarai
(ii)
Inkorporasi
instrumen
Memberi selimut menyelimuti
Membuang sisik menyisiki
(4)
Inkorporasi yang
ditandai dengan ber-
(i)
Inkorporasi
objektif
Mencapai hasil berhasil
Mempunyai hak berhak
(ii)
Inkorporasi
instrumen
Memakai sepeda bersepeda
Memakai selimut berselimut
Dalam
contoh diatas nomen yang berinkorporasi adalah nomen dasar. Mungkin harus
diteliti lagi inkorporasi nomen kompleks dengan beberapa proses morfemis yang
menandakan inkorporasi.
Comments
Post a Comment