TATA BAHASA KASUS II SINTAKSIS


TATA BAHASA KASUS II
(Model1970-1980)


15.1 Tata Bahasa Kasus Model 1970 (TBK II)
            Jika dalam TBK I model  1968 kalimat terdiri atas modalitas dan proposisi, maka dalam tahun 1970 ini modalitas dan pemarkah kasus ditiadakan. Dengan demikian, sebuah kalimat hanya  terdiri dari verbum dan sederetan nomen atau simbol kasus. Fillmore pun sudah mulai cenderung untuk mementingkan komponen semantik dalam TBK sehingga arah pengembangan TBK bermula dari pemahaman akan komponen semantik lalu mencari komponen sintaksis. Jadi, runtunan analisis adalah semantik – sintaksis – fonetik.
             Dalam tahun 1970-1971 Fillmore pun telah mengganti kasus datif dan faktitif denga kasus experiencer ‘pengalami’ dan kasus tujuan. Fillmore mendaftarkan delapan kasus, yakni: agentif, pengalami, instrumen, objektif, sumber/asal, tujuan, waktu, dan kemudian ditambahkan dengan benefaktif.
            Pada umumnya kita dapatklan kasus-kasus itu sebagai berikut:
(1)      Agentif: kasus yang menyatakan pelaku atau pemrakarsa dari satu perbuatan atau pekerjaan. Misalnya:
Petrus membuka pintu. (bahasa Indonesia = B Ind.)
Hans liest das Buch. (bahasa Jerman = BJ)
(2)      Pengalami: kasus ini dituntu oleh satu verbum “mengalami”; kasus ini meyatakan orang mengalami dan kena satu peristiwa psikologis, sensasi, emosi, dan kognitif. Misaknya:
Paulus sakit. (B Ind.)
Er friert in dem ungeheizten Zimmer. (BJ)
(3)      Instrumen: kasus menyatakan dorongan, penyebab, alat terjadinya sesuatu. Misalnya:
Ladameo memotong roti dengan pisau (B Ind.)
Der Elektroofen heizt das Zimmer. (BJ)
(4)      Benefaktif: kasus yang menyatakan nomen memperoleh, memiliki, dan atau kehilangan sesuatu; kasus ini kami sebut pula pemeroleh. Misalnya:
Petani mendapat hadiah sapi. (B Ind)
Er hat ein Buch. (BJ)
(5)      Objektif: kasus yang menyatakan nomen ini statis atau berkendaraan seperti yang dinyatakan oleh makna verbum; kasus ini paling netral. Misalnya:
Batu itu keras; padi menguning. (B Ind)
Er hiezt das Zimmer. (BJ)


(6)      Lokatif: kasus yang menunjukkan tempat dari seuatu nomen atau perubahantempat dari nomen. Misalnya:
Pemuda itu bersandar pada pohon. (B Ind)
Er geht in die Kuche. (BJ)
In der Kunche kocht er Tee. (BJ)
(7)      Sumber: kasus ini menyatakan asal atautitik permulaan/awal. Misalnya:
Kain ini terbuat dari sutera. (B Ind)
Er erhalt von Brieftrager seine Post. (BJ)
(8)      Hasil (result; faktitif): menanyakan hasil atau akibat dari satu perbuatan. Misalnya:
Ibu menanak nasi. (B Ind)
Helga schneidet ein Loch in das Muster. (BJ)
(9)      Waktu: kasus ini menyatakan orientasi waktu. Misalnya:
Ia selalu bangun pagi. (B Ind)
Um 16 Uhrtrifft er seine Freundin Helga. (BJ)
(10)    Komitatif: kasus yang menyatakan peran kesertaan; kami sebut kasus peserta. Misalnya:
Anak ini pergi dengan ibunya ke pasar. (B Ind)
Er geht mit seiner Freundin Helga. (BJ)

Pengantar singkat di atas menunjukkan bahwa pendekatan TBK telah mendapatkan perhatian ahli bahasa yang cenderung mencari kesemestaan bahasa. Dalam uraian lanjutan tampaklah bahwa TBK bukan lagi milik Fillmore semata. Muncullah banyak versi TBK.

15.2 Kaus Proposional dan Kasus Modal
              Dalam TBK II dibedakan pula kasus atas (1) kasus proposional dan (2) kasus modal. Kasus proposional merupakan kasus-kasus wajib sesuai dengan ciri semantis verbum yang dikemukakan oleh Chafe. Secara hirarkis kasus proposional disusun sebagai berikut: agentif, pengalami, benefaktif/pemeroleh, objektif, dan lokatif. Kasus-kasus yang lain termasuk dalam kelompok kasus modal, misalnya, tujuan ,hasil, sumber, waktu,. Nomen berperan sebagai kasus kita katakan “calon kasus” karena satu nomen dapat berperan sebagai agentif, pengalami, benefaktif berdasarkan tuntutan semantis verbum. Kasus proposisional harus muncul dalam bingkai kasus verbum.
              Kasus-kasus modal tidak muncul dalam bingkai kasus. Kasus modal tidak berhubungan dengan proposisi (verbum + kasus + kasus), tetapi kasus tidak berhubungan dengan modalitas seluruh kalimat. Kasus modal juga disebut kasus adverbial dan bersifat mana suka terhadap kalimat. Kasus modal yang utama ialah: tempat, waktu, cara, sebab, tujuan, peserta. Jadi, dapat dikatakan bahwa kasus proposionalmenyatakan hubungan nomen-nomen sedangkan modal menyatakan hubungan adverbial-verbum.

              Dalam hubungan ini perlu dibedakan pula dua macam kasus lokatif. Fillmore membedakan kasus lokatif “dalam” dan lokatif “luar”. Kasus lokatif “dalam” merupakan kasus lokatif yang wajib berhubungan dengan verbum, misalnya, bahasa Inggris he is here. Here disini adalah bagian langsung dari verbum to be. Di sini dikatakan bahwa here adalah lokatif  dalam. Itu sebabnya kasus lokatif dimasukkan dalam kasus proposisional.

15.3 Klasifikasi Verbum Wallace Chafe
              Walaupun Chafe sendiri tidak berbicara tentang bingkai kasus, namun persesuaian ide antara Fillmore dan Chafe tampak dengan jelas. Fillmore dan Chafe berpedoman pada analisis bahasa yang bermula dari semantik.
              Chafe membedakan tipe nomen dalam kalimat atas: nomen agentif, pengalami, benefaktif, pasiens, komplemen, lokatif, dan nomen instrumen. Semua nomen ini akan berhubungan dengan verbum dalam kalimat. Oleh karena itu, Chafe pun menggolongkan verbum secara semantis atas (1) verbum keadaan dan (2) verbum tankeadaan. Verbum tankeadaan dibedakan lagi atas verbum proses, verbum aksi, dan verbum aksi proses. Jadi, Chafe membedakan empat kategori semantis verbum, yakni (1) verbum keadaan, (2) verbum proses, (3) verbum aksi, dan (4) verbum aksi proses. Chafe memberikan contoh kategori verbum dalam tipe dasar sebagai berikut. Tentu saja untuk model bahasa Inggris.
              A.1 verbum keadaan: (adj) dry, dead, tight, broken
              A.2 verbum proses: (iv) break, die, dry, tighten
              A.3 verbum aksi: (iv) laugh, sing, pounce, run
              A.4 verbum aksi proses: (iv) break, dry, kill, tighten
              (Walter A. Cook, 1979; 53-54)
              Kami dapat menurunkan pula contoh berdasarkan kategori semantis Chafe untuk bahasa Indonesia.
              A.1 verbum keadaan: putih, cerah, kekar (adj)
              A.2 verbum proses: layu, tumbuh, pecah
              A.3 verbum aksi: minum, cari, buka
              A.4 verbum aksi proses: (morfemis) mengeringkan, menelantarkan



15.4 Pemaduan Kategori Semantis Verbum dan Kasus
              Tipe-tipe verbum seperti yang dikemukakan oleh Chafe membutuhkan kasus agentif atau kasus objektif, atau agentif dan objektif. Verbum keadaan dan proses membutuhkan kasus objektif sedangkan verbum aksi membutuhkan agentif. Dan verbum aksi-proses membutuhkan kasus agentif dan objektif. Akan tetapi kita pun tahu bahwa ada lima kasus proposional. Kelima kasus proposional adalah: agentif, objektif, pengalami, benefaktif/pemeroleh, dan kasus lokatif.
              Sekarang kita ingin memadukan dan menghubungkan tipe-tipe verbum dan kasus proposional. Kita akan memperoleh satu matriks bingkai kasus seperti di bawah ini.
Matriks Bingkai Kasus
===============================================================
              A                               B                                C                                D        
Verbum dasar              Pengalami                    Benefaktif                   Lokatif
Keadaan                                  keadaan                       keadaan                       keadaan
+[Os]                           +[E,Os]                       +[B,Os]                       +[Os,L]
Proses                          proses                          proses                          proses
+[O]                            +E,O]                          +[B,O]                         +[O,L]
Aksi                             aksi                              aksi                              aksi
+[A]                            +[A,E]                         +[A,B]                         +[A,L]
Aksi proses                  aksi proses                   aksi proses                   aksi proses
+[A,O]                        +[A,E,O]                     +[A,B,O]                     +[A,O,L]


 


              Di bawah ini kami coba mengisi sel-sel itu dengan beberapa verbum bahasa Indonesia hasil pengamatan kami.

Matriks Contoh Verbum Bahasa Indonesia
================================================================

AA                              B                                 C                                 D                                

Dasar                           Pengalami/E                Benefaktif                   Lokatif                                   

Os                                E,Os                            B,O                             O,L

putih                            tahu                             punya                          ada
cerah                            bosan                           kehilangan                   hadir
kekar                           ingin                            bersahabat                   condong                     





O                                 EO                               BO                              OL

layu                             bimbang                      senang                         timbul
tumbuh                        cemas                          dapat                           datang
pecah                           dengar                         mencapai                     tiba                             

A                                 AE                               AB                              AL

minum                         menjawab                    membantu                   perfi
cari                              bilang                          memberi                      turun
buka                            -                                   -                                   naik                            

AO                              AEO                            ABO                           AOL

*mengeringkan            menceritakan               membelikan                 menggeserkan
*menelantarkan           membisikkan               memberi                      mendorong                 


15.5  Kasus sebagai Struktur-Dalam

              Pengertian kasus sebagai penyata hubungan antara nomen dan verbum secara semantis memperlihatkan kepada kita bahwa hubungan itu terjadi dalam struktur-dalam (SD). Dalam analisis TBK hubungan itu diutamakan sedangkan runtunannya tidak penting. Akan tetapi, dalam kenyataannya ada tata runtun yang tetap dan secara hirarkis antara kasus-kasus itu. Ini berarti kita memerlukan satu penggambaran tentang struktur.
              Misalnya kita mempunyai satu verbum runtunan kasus dalam struktur-dalam seperti V + A, I, O atau V + I, O, L. Kita beri isi kepada kasus memukul, anjing, Mateos, tongkat. Bagaimana runtunan itu terjadi dalam struktur-luar? Struktur mempunyai tata alur tertentu untuk menghubungkan kasus-kasus semantis itu. Hal ini dapat kita gambarkan seperti di bawah ini.

                 SD: Verbum transitif, objek, instrumen
                             vokabulari: memukul, anjing, Mateos, tongkat
                 SL: S == Gnag. + Vtr. + Gno. k (dengan) + Gnins
                              Mateos memukul anjing dengan tongkat

              Dlam bahasa Inggris dapat diberikan contoh seperti di bawah ini:

                 SD:  VTv  A  O  I
                           broke John the window + k (with) a hammer
                 SL:  S ==  John broke the window with a hammer

              Dengan demikian, perlu dicarikan satu analisis struktur yang dapat  menggambarkan struktur-luar dari hubungan kasus di struktur-dalam. Jawabannya ialah teknik analisis tagmemik. Itu sebabnya dikatakan oleh Walter A. Cook (1979: 28) “Case Grammar as Deep Structure in Tagmemic Analysis”.
             



15.6 Hubungan antara Kasus dan Analisi Subjek-Objek
             
              Dalam hubungan dengan pembicaraan tentang TBK, perlu kami singgung masalah subjek yang sudah lama dikenal dalam analisis bahasa walaupun sering tidak tepat diterapkan oleh para ahli bahasa. Dikatakan bahwa penentuan subjek diperlukan oleh seorang linguis jika ia menemui satu pilihan tentang subjek. Peristiwa ini terjadi hanya pada bahasa yang membedakan bentuk aktif dan pasif. Bahasa Inggris mengenal bentuk aktif dan pasif. Oleh karena itu, dalam analisis bahas Inggris dibutuhkan konsep subjek pada taraf pertama.
              Masalah yang muncul dalam pilihan subjek ialah jika dalam kalimat itu terdapat beberapa kasus proposional? Misalnya, kita harus memilih di antara kasus /A, I, O/. Mana di antara ketiga kasus itu dicalonkan sebagai subjek? Dalam sebuah kalimat aktif-dan ini kitaterima sebagai kalimat yang normal-maka calon subjek adalah /A/.
              Fillmore mempunyai hipotesis secara hierarkis untuk calon subjek. Dalam kalimat yang normal subjek selalu terletak di depan verbum yang predikatif. Jika kita mempunyai runtunan kasus /A, I, O/, maka calon subjek dihipotesiskan sebagai berikut:

(1)   Jika ada kasus /I, O/ tanpa ada /A/, maka calon subjek adalah kasus /A/. Misalnya:
Mateos membuka pintu dengan kunci.
(2)   Jika ada kasu /I, O/ tanpa ada /A/, maka calon subjek adalah /I/. Misalnya:
Kunci itu membuka pintu.
(3)   Jika hanya da kasus /O/, maka calon subjek adlah /O/. Misalnya:
Pintu itu buka/membuka.

              Dalam runtunan kasus /A, B, O/, maka hipotesis calon subjek adalah sebagai berikut:

(1)   Jika ketiga kasus itu ada, maka /A/ menjadi calon subjek. Misalnya:
Ayah membelikan adik boneka. /A, B, O/
(2)   Jika hanya ada kasus /B, O/ dalam kalimat pasif, maka /B/ menjadi calon subjek. Misalnya:
Adik dibelikan boneka. /B/ = subjek.
(3)   Jika hanya ada kasus /O/, maka kasus /O/ itu menjadi calon subjek. Miaslnya:
Boneka dibeli. /O/ = subjek

            Dalam runtutan kasus /A, L, O/, maka hipotesis calon subjek adalah sebagai berikut:

(1)   Jika ketiga kasus itu, maka /A/ adalah calon subjek. Misalnya:
Ia mengandung benih penyakit dalam darahnya.
(2)   Jika hanya ada /L, O/, maka /L/ adalah calon subjek. Misalnya:
Darahnya mengandung benih penyakit. /L/ = Subjek
(3)   Jika hanya ada /O/, maka /O/lah calon subjek. Misalnya:
Benih penyakit ada. /O/ = Subjek

            Dengan contoh di atas dibuktikan bahwa ada satu tata hirarki pilihan untuk calon subjek. Kami tidak berpretensi bahwa inilah satu-satunya analisis eklektik yang memadai. Hipotesis di atas masih harus diuji terus-menerus.

15.7 Inkorporasi Kasus ke Verbum
            Sebagai pengakhir pembicaraan tentang TBK II ini, akan kami singgung soal inkorporasi ini dapat dibicarakan dalam tataran morfologi. Akan tetapi, karena pertimbangan akan kebaruan analisis TBK, maka peristiwa inkorporasi ini kami turunkan disini.
            Inkorporasi merupakan pengintegrasian kasus ke dalam sebuah verbum atau pengverbuman sebuah kasus secara morfologis tanpa membawa perbedaan semantis. Tau dengan kata lain sebuah verbum yang diturunkan dari sebuah kasus secara morfologis. Misalnya “Empat perampok yang memakai tutup kepala bersenjatakan golok”.
            Tentu saja, pertama harus ditemukan proses morfemis inkorporasi, seperti, afiks ikorporasi. Kedua, harus ditemukan dan dikaidahkan kasus yang dapat diinkorporasikan atau berinkorporasi.
            Di bawah ini kami berikan beberapa contoh verbum inkorporasi baik unsur morfemis maupun kasus yang berinkorporasi.
(1)   Inkorporasi yang ditandai dengan meN-
(i)                 Inkorporasi instrumen
memberi selimut                menyelimuti
menuju ke darat                 mendarat



(2)   Inkorporasi yang ditandai dengan meN-kan
(ii)               Inkirporasi instrumen
memakai sepeda                bersepeda
menjadi bukti                    membuktikan
mengajukan usul                mengusulkan
(3)   Inkorporasi yang ditandai dengan meN-i
(i)                 Inkorporasi objektif          
memberi restu                    merestui
merebut juara                     menjuarai
(ii)               Inkorporasi instrumen
Memberi selimut                menyelimuti
Membuang sisik                menyisiki
(4)   Inkorporasi yang ditandai dengan ber-
(i)                 Inkorporasi objektif
Mencapai hasil                   berhasil
Mempunyai hak                 berhak
(ii)               Inkorporasi instrumen
Memakai sepeda                bersepeda
Memakai selimut               berselimut

            Dalam contoh diatas nomen yang berinkorporasi adalah nomen dasar. Mungkin harus diteliti lagi inkorporasi nomen kompleks dengan beberapa proses morfemis yang menandakan inkorporasi.




Comments

Popular posts from this blog

BAB VII FRASA BERDASARKAN DISTRIBUSINYA: FRASA ENDOSENTRIS KOORDINATIF DAN FRASA ENDOSENTRIS APOSITIF

Sintaksis Bahasa Indonesia: pendekatan proses

Pengertian Frasa